Manusia Menurut Konsep Al-Qur`an, Agama, dan Sains

 

Al-Quran sendiri menyatakan bahwa manusia adalah ciptaan tuhan yang paling sempurna. Kesempurnaan manusia ini dapat dilihat dari fungsi yang menyatu antara jasad dan ruh dalam tubuh manusia. sebagai contoh ketika kita melihat penyatuan jasad dan ruh dari fungsi panca indra kulit. Kulit bila di cubit akan menimbulkan rasa sakit, sakit yang dirasakan ternyata merupakan sesuatu yang dirasakan oleh jasad dan ruh. Karena, bila ditelaah lebih dalam manakah yang merasakan sakit sebenarnya, jasad atau ruh saja?

Jasad tanpa ruh dapat kita lihat pada manusia yang telah mengalami kematian dan bila orang yang sudah mati dicubit maka ia tidak akan merasakan apa-apa karena organ-organ tubuhnya telah mati rasa. Begitu pula pada ruh, ruh tanpa jasad tidak dapat dicubit, karena ruh itu ghaib dan tidak kasat mata. Ternyata rasa sakit pada panca indera kulit bila dicubit adalah rasa yang timbul dari penyatuan antara jasad dan ruh di dalam tubuh manusia.

Siti Khasinah (2013) meneliti tentang hakekat manusia menurut pandangan Islam dan Barat. Penelitian yang dilakukan Siti Khanisah lebih berfokus mengenai masalah potensi potensi yang dimiliki manusia yang berbeda dengan apa yang ada pada binatang. Penelitian ini mengeksplor hakekat manusia mulai dari proses penciptaan manusia yang selalu menjadi perdebatan antara pandangan Islam dan sain Barat (sekuler). Pembicaraan-pembicaraan tentang manusia ini kemudian menimbulkan petanyaan “siapakah sebenarnya manusia itu?  Bagaimana asal usul penciptaan manusia?. Hal ini akan dilihat dari persfektif al-Quran, sain Islam dan sain Barat (sekuler).

Para filosof mendefinisikan manusia dengan beragam. Demokritos (460-360 S.M), berpendapat manusia adalah, salah satu jenis hewan, namun yang membedakan manusia dengan hewan adalah “berfikir”. Demikian juga Aristoteles yang terkenal sebagai “Bapak Logika” mendefinisikan manusia sebagai “thinking animal‟ atau “hewan yang berfikir” (Muhammad Hatta, 1980). Yang selanjutnya, para ilmuwan yang tergabung dalam disiplin ilmu pendidikan berpendapat bahwa manusia adalah “homo educandum” yakni “makhluk yang harus diberikan pendidikan”.

Lalu bagaimana manusia dalam perpsektif penganut agama?

Pertama, Agama Hindu. Dalam agama Hindu manusia merupakan salah satu pancaran dari zat Brahman. Karena menurut Brahma, alam semesta ini adalah pancaran  zat Brahman. Manusia merupakan bagian dari alam semesta. Manusia dalam perspektif agama Hindu ditakdirkan lahir dengan membawa kasta-kasta yang telah ditentukan seperti kasta brahma sebagai kasta tertinggi, kemudian di bawahnya ksatria, waisya dan yang terakhir sudra. Dalam   konsep Hinduisme, tujuan utama dari alam pikiran manusia   adalah   ikhtiar   menemukan “jati diri” paling hakiki (brahman) [1]

Kemudian dalam doktrin agama Budha bahwa manusia tidak boleh memiliki kesenangan dan kenikmatan hidup duniawi. Karena tujuan hidup dalam ajaran Budha adalah mencari nirwana. Untuk mencapai nirwana harus mengalami “reinkarnasi‟. Reinkarnasi dimaksud adalah perpindahan “roh” manusia dan satu jasad ke jasad lain dan mampu hidup kembali.

Ketiga, Konsep kepercayaan agama Nasrani bahwa manusia lahir dunia ini dengan membawa dosa. Mereka mewarisi dosa asal dari Nabi Adam yang pernah durhaka terhadap Tuhan. Karenanya Yesus Kristus telah sengaja turun dari sorga dan masuk ke dalam dunia ini untuk disalib sebagai tebusan terhadap dosa-dosa manusia. Karenanya Yesus Kristus dianggap sebagai “juru selamat”.

Keempat, Manusia dalam perspektif Islam berbeda dengan konsep manusia dalam agama-agama di atas. Ajaran Islam memandang manusia sebagai khalifah Allah di bumi yang tugas mengurus, membangun dan mengolah bumi serta memakmurkannya sesuai dengan petunjuk Allah Ta‟ala. Firman- Nya

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu… (Q.S. al-An‟am: 165).

Manusia awalnya diciptakan dari tanah, kemudian    proses    penciptaan    berikutnya berkembang (ber- “evolusi”) mulai dari  mani (sperma), sel telur, darah, daging, tulang, dan setelah masa empat bulan dari perkembangannya,    ditiupkan    “ruh-Nya”

Jika dilihat dan berbagai pernyataan tentang manusia tersebut di atas, Manusia tidak dapat disejajarkan dengan binatang apalagi disamakan. Manusia ya manusia, bukan malaikat apalagi binatang. Namun kadang kala manusia dapat menyamai binatang jika dilihat dari tingkah laku dan sifat yang melekat pada diri seseorang, seperti manusia yang tidak melaksanakan aturan-atunan atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat dan agama yang dianutnya. Maka dengan demikian apa yang digambarkan para filosof di atas, bahwa manusia disejajarkan dengan hewan atau binatang tidaklah begitu tepat walaupun tidak dapat dikatakan salah sepenuhnya.

Dari segi psikologis yang dimiliki manusia jauh berbeda dengan jiwa (roh) yang dipunyai oleh hewan atau binatang. Yang sangat mendasar tersebut adalah bila dilihat dari hal yang dikaitan dengan fungsi jiwa (rob) yang dimiliki oleh manusia itu sendiri.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”. (Q.S. A‟raf: 179)

Ayat tersebut di atas secara tegas menyatakan bahwa manusia berbeda dengan hewan atau binatang, walaupun pada keduanya (manusia dan binatang) Allah berikan hati, mata, dan telinga. Namun hati, mata, dan telinga yang diberikan Allah kepada manusia berbeda dengan hati, mata, dan telinga diberikan-Nya kepada hewan. Perbedaan tersebut yakni dari segi fungsinya.

 Pandangan Islam, Al-Qur‟an (naqal) tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok hewan selama manusia mempergunakan akal dan karunia Tuhan lainnya. Namun bila manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi pemberian Tuhan yang sangat tinggi nilainya seperti: pemikiran, kalbu, jiwa, raga, serta panca indera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan.

Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya.” (Q.S. Fatir (35) ayat 11)

Alquran menerangkan tentang asal muasal kejadian manusia

A.   Kejadian Adam

Diciptakan dari tanah (penciptaan Nabi Adam AS). Sesuai firman- Nya; Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan  manusia dari tanah.” (Q.S. As Sajadah- ayat 7)

B.    Kejadian Hawa

Diciptakan dari tulang rusuk Adam (penciptaan Hawa). Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar Dia merasa senang kepadanya. (Q.S. an-Nisa : ayat 11)

Maksud „dari padanya Allah menciptakan istri‟, menurut jumhur mufassirin ialah dari bagian tubuh (tulang rusuk) Adam a.s. berdasarkan hadis riwayat Bukhari dan Muslim. di samping itu ada pula yang menafsirkan dari padanya ialah dari unsur yang serupa yakni tanah yang dari padanya Adam a.s. diciptakan. Muhammad Rasyid Ridha dalam bukunya “al-Manar” menegaskan bahwa mufassir yang mengatakan bahwa Hawa tercipta dari tulang rusuk adam dipengaruhi oleh penjelasan dalam perjanjian lama (bibel). Dalam Kitab Bibel (Genesis 1:26-27; Imamat 2: 7 dan 5; Yahwis 2: 18-24 terdapat uraian khusus tentang penciptaan Adam dan Eve (Hawa).

C.   Kejadian Isa

Diciptakan melalui seorang ibu dengan proses kehamilan tanpa ayah, baik secara hukum maupun secara biologis. (penciptaan Nabi Isa pada Surat Maryam (19): 19-22)

D.   Kejadian manusia Secara Umum

Diciptakan melalui kehamilan dengan adanya ayah secara biologis dengan  proses reproduksi manusia lewat rahim ibu.

“12) Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13) Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh  (rahim). 14) Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. an-Nisa: ayat 11)

Pada awal abad 20 Seorang dokter ahli biologi berkebangsaan Perancis Muiricc  Bucaille, telah menulis sebuah buku yang berjudul “La Bible, La Coranet La Science”. Bucaille mengatakan manusia terjadi melalui proses-proses yang lazim dan umum terjadi bagi hewan yang menyusui. Mulai dari tahap pembuahan, embrio hingga pada tahap terakhir terbentuknya sebuah janin. Menurutnya bentuk manusia terjadi secara bertahap yang dalam rosesnya terbentuk tulang belulang serta perlengkapan lainnya seperti otot, sistem syaraf, sistem sirkulasi, pembuluh-pembuluh dan lain-lain. [2]

Bantahan Terhadap Konsep Sains (Teori Evolusi Darwin) mengenai kejadian manusia

A.   Kelompok Teori Evolusi

Berdasarksn teori evolusi semua manusia berasal dari bangsa yang lebih rendah, yakni hewan. Darwin beranggapan makhluk tumbuhan dan hewan berasal dari jenis yang paling rendah dan jenis yang paling rendah yakni yang awal sekali ialah amuba atau mahkluk satu sel. Jenis yang paling tinggi atau akhir sekali adalah manusia. Teori evolusi berpijak atas data-data fosil yang ditemukan dalam lapisan tanah bumi.

B.   Kelompok Finalisma

Kelompok Finalisma membela teori yang dikeluarkan oleh kaum evolusi. Menurut kelompok Finalisma kalaulah dalam dua milyar tahun terakhir sejarah bumi, berlangsung evolusi dunia hewan, dengan teratur, yang 350 abad yang lewat berujung pada jenis manusia budiawan, tentu wajar kalau kita menduga bahwa di masa yang akan datang akan lahir jenis baru yang berbeda sekali dari jenis manusia yang sekarang. Pernyataan ini sekaligus melemahkan dan justru berlawanan teori evolusi itu sendiri (bahwa makhluk hidup akan terus berubah dari bentuk satu kebentuk lainnya).

 

Refrensi

[1]      Z. Hasan, “Manusia dalam Perspektif Fungsi Transendental,” Tadris, vol. 12, no. 2, pp. 30–34, 2017.

[2]      M. Menurut, K. Al-qur, E. Kurniawati, and N. Bakhtiar, “Manusia Menurut Konsep Al-Qur`an dan Sains,” no. 1, pp. 78–94, 2018.


Penulis : M. Hifzul Abror Hn


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.