Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid : Wanita Pemimpin Organisasi Kemasyarakatan Islam

 




Muktamar X Organisasi Nahdlatul Wathan pada 24 – 26 Juli 1998 di Praya-Lombok Tengah, menjadi fenomena besar dalam ruang “gender” di Pulau Lombok (Nusa Tenggara Barat). Pada momentum tersebut, seorang wanita terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Wathan. Beliau adalah Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid. Fenomena tersebut melawan fenomena sosial di pulau Lombok pada masa itu yang masih tabu dengan konsep kesetaraan gender. Terpilihnya Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sebagi ketua umum PBNW pun mendapatkan perlawan keras dari beberapa oknum yang menyatakan bahwa, organissi Nahdlatul Wathan sebagai ormas Islam penganut mazhab Syafi’I, tidak boleh dipimpin oleh seorang wanita. Akan tetapi argumentasi tersebut dibantah oleh tokoh lain yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan pendapat para ulama Syafi’iyyah mengenai kepemimpinan wanita dalam ruang publik. Dengan demikian rujukan yang paling kuat adalah AD/ART dari organisasi Nahdlatul Wathan sendiri. Berdasarkan AD/ART tersebut, bahwa tidak ditemukan adanya larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin organiasi Nahdlatul Wathan. Oleh sebab itu, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dianggap sah sebagai Ketua Umum PBNW.(Tim Kerja Perkumpulan Nahdlatul Wathan, 2021)

Kekalahan argumentasi oknum yang tidak menerima Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sebagai Ketua Umum PBNW, menjadi titik awal munculnya kepemimpinan ganda dalam organisasi Nahdlatul Wathan. Hal ini yang kemudian memicu terjadinya berbagai konflik internal organisasi Nahdlatul Wathan, bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Meskipun kondisi yang begitu kacau di Desa Pancor sebagai tempat berdiri dan pusat kegiatan organisasi pada masa itu, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sebagai Ketua Umum PBNW yang sah, tetap teguh untuk menjalankan amanat sebagai pemimpin organisasi Nahdlatul Wathan. Demi menjaga kemanan warga dan keberlangsungan organisasi Nahdlatul Wathan dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid mengajak para jama’ah yang pro kepadanya untuk berhijrah dari Desa Pancor ke Desa Kalijaga, kemudian hijrah lagi ke Desa Anjani (Lombok Timur). (Hamdi, 2019) Desa Anjani ini lah yang kemudian menjadi pusat organisasi Nahdlatul Wathan sampai saat ini.

Selama kepemimpinannya sejak tahun 1998 – 2019 (empat Periode), (News, 2020) Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid melakukan perjalanan ke hampir seluruh wilayah Indonesia untuk mengembangkan organisasi Nahdlatul Wathan. Beliau mengunjungi daerah perkotaan dan pedesaan untuk membangun lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga dakwah Islamiyah. Berdasarkan laporan L. Gede Samsul Mujahidin SE, dalam acara HULTAH Madrasah NWDI ke-84 di Desa Anjani pada tahun 2019, Hj. Sitti Raihanun selama masa kepemimpinannya telah berdiri sebanyak 1630 lembaga pendidikan, dengan catatan bahwa 750 lembaga berdiri pada masa hayatnya TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Pendiri Organisasi Nahdlatul Wathan).(KA, 2022) Selama kepemimpinannya, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abduld Madjid telah mampu membangun sebanyak 880 lembaga pendidikan.

Munculnya Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid sebagai sosok wanita yang mampu menjadi Ketua Umum PBNW, menjadi tamparan keras bagi nilai-nilai patriarki yang dianut oleh masyarakat. Sebagaimana temuan Basariah, ZM, dan Dahlan, bahwa paradigma masyarakat di Pulau Lombok masih ada yang meyakini bahwa kaum wanita pada akhirnya akan kembali mengurus rumah tangga. (Basariah dkk., 2014) Di tengah fenomena patriarki tersebut, Hj. Sitti Raihanun Zainuddn Abdul Madjid menunjukkan bahwa wanita memiliki hak untuk aktif di ruang publik. Wanita memiliki peluang untuk mengembangkan berbagai sektor kehidupan sosial.

Kehadiran dan Peran Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid dalam memimpin organisasi Nahdlatul Wathan, seharusnya mampu menjadi bahan refleksi bagi masyarakat Indonesia saat ini. Pertama, budaya patriarki harus dihilangkan. Isu agama kerap kali menjadi legitimasi budaya patriarki dalam masyarakat. Padahal kedudukan wanita sebagai seorang pemimpin masih menjadi khilafiyyah di kalangan para ulama. Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid muncul sebagai sosok wanita yang mempin organisasi kemasyarakatan Islam. Fenomena ini justru sangat menarik jika dihadapkan dengan berbagai isu agama yang diangkat untuk melegitimasi budaya patriakri. Kehadiran Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid menjadi dalil nyata atas kebolehan dan kesuksesan kaum wanita dalam memimpin di ruang publik. Berbagai kontribusi nyata yang diberikan oleh Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, menunjukkan bahwa kaum wanita boleh dan mampu berkontirbusi besar dalam mengembangkan agama dan bangsa.

Kedua, wanita harus berani tampil dalam ruang publik. Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid menunjukkan keberaniannya sebagai seorang wanita ditengah-tengah paradigma patriarki masyarakat. Bahkan beliau mampu mempin organiasi selama kurang lebih 20 tahun. Keberanian seperti ini patut menjadi contoh bagi kaum wanita. Tidak cukup wanita hanya berdiskusi dan menyuarakan keadilan gender dalam ruang tertutup. Wanita harus berani tampil, berani bergerak, berani berbuat. Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, dengan keberanian dan kegigihannya dalam mengembangkan organiasi Nahdlatul Wathan, sampai mendapat gelar Al-Mujahidah dari Syaikh Sayyid Abbas bin Alawi al-Maliki al-Hasani (saudaranya Syaikh Sayyid Muhammad bin Alwi). 

Ketiga, wanita harus memiliki semangat untuk meningkatkan kuaitas diri. Kualitas diri tentu menjadi faktor yang sangat penting bagi wanita untuk mampu tampil di ruang publik. Tantangan paradigma yang seakan mengucilkan wanita karena memiliki banyak kekurangan, harus dibalas dengan kualitas diri yang maksimal. Jika kaum wanita bersuara lantang demi keadilan gender, maka kaum wanita juga harus dengan percaya diri menampilkan kualitas dirinya ke pubilik. Jika kaum wanita hanya menyuarakan keadilan gender, tetapi upaya meningkatkan kualitas diri masih minim, ini justru akan menyudutkan wanita. Oleh sebab itu, selain memiliki keberanian, wanita harus memiliki intelektual, emosional. dan spiritual yang berkualitas. Dengan demikian akan muncul kedepannya tokoh-tokoh wanita yang mampu menjadi pemimpin, menjadi ahli dalam berbagai bidang keilmuan, dan menjadi agen perubahan dalam ruang sosial.

Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid, adalah sosok wanita pejuang. Kehadirannya sebagai sosok wanita yang kuat dan semangat dalam berjuang menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Dari Pulau Lombok, pulau kecil di Nusa Tenggara Barat, Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid mampu berkontribusi bagi bangsa Indonesia. Tidak hanya pendidikan gender, tetapi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid juga mengajarkan bagaimana mengelolah dan memanage sebuah organiasi, lembaga pendidikan, lembaga sosial, dan lembaga dakwah Islamiyyah. Sepak terjang beliau menjadi tamparan keras bagi generasi muda saat ini. Generasi muda kaum wanita harus mampu menjadi orang yang berperan aktif demi kemajuan agama dan bangsa. Generasi muda kaum pria pun harus menghilagkan paradigma patriarki, dan memberikan ruang bagi kaum wanita untuk ikut berkontribusi dalam mengembangkan agama dan bangsa.

 

Referensi

Basariah, B., ZM, H., & Dahlan, D. (2014). Persepsi Masyarakat Terhadap Pendidikan Sekolah Bagi Kaum Perempuan di Dusun Dasan Bongkot, Desa Kalijaga, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur. JURNAL ILMU PENDIDIKAN (JIP), 21(2).

Hamdi, S. (2019). Nahdlatul Wathan Di Era Reformasi Agama, Konflik Komunal Dan Peta Rekonsiliasi. Pulham Media.

KA, L. (2022, September 28). Biografi Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Madjid. Lingkar Informasi. https://www.lingkarinformasi.net/2022/09/biografi-hj-sitti-raihanun-zainuddin.html

News, N. O. (2020, Februari 16). Rauhun Pepadungku, Raihanun Pepadungku Dait Pepadu Datok Abdul Madjid. NW ONLINE News. https://nwonline.or.id/news/ummuna/

Tim Kerja Perkumpulan Nahdlatul Wathan. (2021). Ini Dia Kronologis Sengketa Kepengurusan Nahdlatul Wathan. Abu Salmawa. https://www.salmawa.com/2021/01/ini-dia-kronologis-sengketa.html


Penulis : Adet Tamula Anugrah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.