Pondok Pesantren YANMU NW Praya : Kontekstualisasi Berpikir Multidimensional Dalam Pendidikan

 


Manusia adalah makhluk multidimensional. Paradigma tersebut berangkat dari konsep hakikat manusia yang merupakan makhluk material-spiritual, sosial, politik, ekonomi, dan religius. Realita tersebut menjadikan manusia memiliki problematika yang multidimensi pula, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, politik, budaya, hukum, dan agama. Dengan problematika yang multidimensi tersebut, maka kunci untuk mengatasi berbagai problematika yang dihadapi oleh manusia adalah dengan menggunakan paradigma berpikir multidimensional.(Zaprulkhan: 2020)

Pendidikan merupakan unsur fundamental kehidupan manusia. Ibnu Sina menyatakan bahwa pendidikan menjadi dimensi penting kehidupan manusia. Dengan pendidikan, manusia akan mampu meningkatkan kualitas jiwa dan akalnya.

Menurut Prof. Musa Asy’arie, pendidikan seharusnya dijalankan berdasarkan perspektif bahwa manusia adalah makhluk multidimensional. Selama ini pendidikan lebih cenderung dijalankan dengan memandang manusia sebagai makhluk satu dimensi. Misalnya pendidikan agama lebih mengarah kepada pembentukan manusia yang hanya mengejar dan menekankan religiusitas.(Zaprulkhan: 2020) Sedangkan dalam kehidupannya, manusia juga akan menghadapi problematika diluar dimensi keagamaan. Oleh sebab itu, pendidikan tidak boleh hanya menekankan satu dimensi kehidupan manusia. Pendidikan harus mampu memandang manusia secara multidimensional, sehingga pendidikan akan melahirkan output yang mampu menjawab berbagai persoalan dan tantangan dalam kehidupan.

Kontekstualiasi Paradigma berpikir multidimensional dalam pendidikan, telah dilakukan oleh Pondok Pesantren YANMU NW Praya. Pondok Pesantren YANMU NW Praya merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Kota Praya, Lombok Tengah. Meskipun sebagai lembaga pendidikan Islam, pola manajemen Pondok Pesantren YANMU NW Praya tidak hanya mementingkan aspek religius santri. Peningkatan aspek intelektual dan soft skill santri, menjadi dimensi yang sangat diperhatikan oleh Pondok Pesantren YANMU NW Praya. Dalam lembaga formal tingkat SLTA, santri bisa memilih fokus studi sesuai minat dan bakat mereka, baik itu Keagamaan, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, dan Pariwisata. Di luar jam formal, santri akan mengkaji kitab kuning (Khas Pesantren), peningkatan soft skill dalam bidang bahasa asing (Arab-Inggris), olah raga, seni, dan berbagai ekstrakurikuler lainnya.

Pola pendidikan multidimensional yang terapkan oleh Pondok Pesantren YANMU NW Praya, melahirkan alumnus-alumnus yang tidak hanya memahami ilmu agama, tetapi juga memahami ilmu pengetahuan interdisipliner bahkan multidisipliner. Sehingga alumni Pondok Pesantren YANMU NW Praya tidak hanya berprofesi sebagai tokoh agama, tetapi ada yang berprofesi sebagai akademisi, TNI, Polisi, enterpreuner, dokter, dan berbagai profesi lainnya. Bahkan sejak 2 Maret 2022, Klinik Pondok Pesantren YANMU NW Praya resmi beroperasi dengan pegawai yang merupakan alumni YANMU sendiri. Klinik tersebut menerima pasien tidak hanya dari kalangan warga pesantren, tetapi juga terbuka untuk masyarakat umum di luar pesantren.

Pendidikan multidimensional Pondok Pesantren YANMU NW Praya harus menjadi sampel bagi lembaga pendidikan Islam lainnya. Sehingga, generasi muda muslim tidak gagap dengan kompleksitas realita kehidupan manusia. Mereka harus mampu berpikir logis, kontekstual, dan relevan dengan perkembangan zaman. Sehingga mereka akan menjadi generasi yang mampu berinovasi dan menjadi agen perubahan dalam peradaban. 

Penulis : Adet Tamula Anugrah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.