Kecerdasan Otak Itu Apa Sih? Yuk Intip Dari Jendela Sains
Dari jendela sains, kecerdasan memiliki pandangan yang
berbeda-beda. Kecerdasan sendiri berawal dari otak yang mengandung milyaran
neuron yang menjadi sistem saraf pusat. Otak mengatur dan mengkoordinir
sebagian besar tubuh baik gerakan, pemikiran, perilaku dan fungsi tubuh
hemoistasis seperti detak jantung, tekanan darah, keseimbangan cairan tubuh dan
suhu tubuh. Otak manusia
bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan
erat antara otak dan pemikiran. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi seperti pengenalan, emosi, ingatan, pembelajaran motorik dan segala bentuk pembelajaran lainnya.1
Otak merupakan organ yang paling banyak menyerap energi di dalam tubuh manusia.2 Untuk bisa bekerja dengan baik, otak membutuhkan energi dari makanan yang kita makan. otak juga membutuhkan oksigen dari udara yang kita hirup dan cairan dari air yang kita minum. Namun, tidak hanya itu yang dibutuhkan otak. Otak juga memerlukan dunia sosial. Ia membutuhkan orang lain. Untuk bisa bekerja dengan baik, otak membutuhkan jaringan dunia sosial dengan segala kompleksitasnya. Tanpa ini semua, otak tidak hanya tidak bisa bekerja dengan baik. Otak akan kehilangan fungsi dasarnya.
Ilmu yang mempelajari tentang otak adalah Neurosains. Neurosains secara etimologi adalah ilmu neural (neural science) yang mempelajari sistim syaraf, terutama mempelajari neuron atau sel syaraf dengan pendekatan multidisipliner.3 Secara terminologi, neurosains merupakan bidang ilmu yang mengkhususkan pada studi saintifik terhadap sistim syaraf. Dengan dasar ini, neorosains juga disebut sebagai ilmu yang mempelajari otak dan seluruh fungsi- fungsi syaraf belakang.4
Robert Sylwester, seorang Profesor bidang pendidikan dari University of Oregon menyatakan bahwa selama berabad-abad guru, orang tua maupun orang dewasa umumnya membesarkan anak-anak mereka tanpa pengetahuan sedikitpun tentang neurobiology.5 Neurobiology adalah sebuah cabang ilmu yang mempelajari tentang kinerja sistem saraf, fisiologi dan hubungannya dengan perilaku manusia.
Akibatnya banyak orang tua membesarkan (mendidik) anak mereka sesuai dengan cita-cita mereka. Hal ini bisa dilihat bahwa kebanyakan anak pertama cenderung meneruskan cita-cita orang tuanya. Misalnya, ketika orang tuanya bercita-cita menjadi dokter tetapi gagal, ia berharap bahwa anaknyalah yang harus meneruskan cita-citanya tersebut.
Jika dilihat dari berbagai
jendela disiplin ilmu, otak memiliki berbagai definisi :
Struktur
Otak dalam Kajian Biologi
Secara anatomi, otak (brain) terdiri atas bagian otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum) dan batang otak (brain stem). Otak besar memiliki 4 lobus yaitu pertama Lobus Frontal, Lobus Parietal, Lobus Temporal dan Lobus Oksipital.
Pembagian belahan otak kiri dan kanan juga dikaji secara fungsi mentalnya dalam sebuah teori, yaitu Teori Otak Kiri dan Otak Kanan. Secara garis besar, kedua belahan tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. Otak kanan (otak kreatif) berhubungan dengan proses dan penyimpanan informasi mengenai gambar, imajinasi, warna, dan ritme. Sementara otak kiri (otak analitis) berhubungan dengan angka- angka, kata-kata, logika, dan detail.
Kajian
Fisika dan Kimia menjelaskan Mekanisme Kerja Otak
Jaringan otak manusia hidup menghasilkan gelombang listrik yang berfluktuasi yang disebut brainwave atau gelombang otak. Gelombang otak menandakan aktifitas pikiran seseorang. Otak adalah organ tubuh bersifat elektrokimia yang dispekulasi dapat menghasilkan energi listrik sebesar 10 watt. Gelombang otak diukur dengan alat yang dinamakan Electro Encephalograph (EEG) yang ditemukan pada tahun 1929 oleh psikiater Jerman, Hans Berger. Hasil pengukuran menginformasikan empat gelombang otak yang diproduksi oleh umumnya otak manusia yaitu Beta, Alpha, tetha, Delta. Setiap gelombang otak memiliki perbedaan frekuensi, kecepatan gelombang, dan fungsi.6
Otak memang sangat rumit dijelaskan karena akan selalu ada penemuan-penemuan baru tentang otak yang terus berkembang. Secara umum kecerdasan bukan hanya bertolak ukur pada kecerdasan otak dalam berpikir. Dalam sebuah teori kecerdasan yang diungkapkan Howard Gardner tahun 1983, mengatakan bahwa tidak ada manusia yang tidak cerdas, yang ada adalah anak yang menonjol dalam salah satu atau beberapa jenis kecerdasan IQ (Intelligence Quotient), EQ (Emotional Quotient), dan SQ (Spiritual Question). Teori ini menjelaskan bahwa tidak ada anak yang bodoh atau pintar tapi setiap anak memiliki potensi masing-masing dalam 3 kecerdasan diatas.
Dalam teori Howard Gardner, kecerdasan melebihi dari hanya sekedar IQ (Intelligenc Quotient) karena IQ yang tinggi tanpa ada produktifitas bukan merupakan kecerdasan yang baik. Anak harus dinilai berdasarkan apa yang mereka dapat kerjakan bukan apa yang tidak dapat mereka kerjakan. Kecerdasan didefinisikan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan memiliki nilai lebih dalam sebuah kultur masyarakat.7
Lalu bagaimana kecerdasan otak dapat dikembangkan pada manusia?
Proses perkembangan anak sangat mempengaruhi kecerdasan otak. Perkembangan kecerdasan otak tersebut bersumber dari berbagai aspek mulai dari pola makanan dan olahraga, istirahat serta lingkungan. Dalam perspektif Psikologis, kecerdasan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Seorang psikolog dari Inggris bernama Tony Buzan dalam bukunya The Mind Map Book (1993) mengemukakan pentingnya lingkungan yang kondusif akan perkembangan otak manusia terutama sejak masih kanak-kanak.
Tony Buzon menilai bahwa pada saat seorang anak dilahirkan, sebetulnya ia terlahir dengan sangat brilian. Salah satu indikasi bahwa otak manusia sudah cerdas sejak lahir adalah, anak-anak cenderung bertanya tentang segala hal yang baru bagi mereka. Rasa ingin tahu yang besar pada anak-anak menunjukkan bahwa otak mereka bekerja dengan sangat baik dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Kemampuan alamiah ini sudah dimiliki manusia sejak lahir, seorang bayi akan mengenali lingkungannya pertama-tama dengan otaknya. Setiap hal yang diterima oleh bayi akan direspons oleh otaknya sehingga seorang bayi dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.
Lalu, apakah semua kita mampu untuk berpikir cerdas?
Seorang filosof terkenal, Aristoteles berpendapat bahwa pada waktu lahir jiwa manusia tidak memiliki apa-apa, sebuah meja lilin (tabula rasa) yang siap dilukis oleh pengalaman. Dari Aristoteles, John Locke (1632-1704) tokoh empirisme Inggris, meminjam konsep ini. Menurut kaum empiris, pada waktu lahir manusia tidak mempunyai “warna mental”. Warna ini didapat dari pengalaman. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan.
Dari konsep filosofis diatas, maka kecerdasan manusia terbentuk berawal dari ketiadaan yang sama. Yang membedakan kecerdasan seseorang adalah bagaiamana dia mampu mengenali dan mengontrol alam pikirannya yang berpusat di otak dengan proses pengenalan lingkungan yang berawal sejak seseorang masih janin.
Refrensi
https://id.wikipedia.org/wiki/Otak
akses 18, Agustus 2022
Eagleman, David. 2015. The
Brain: The Story of You. New York: Pantheon Books.
Taufik Pasiak, Tuhan dalam
Otak Manusia, Mewujudkan Kesehatan Spiritual Berdasarkan Neurosains, (Bandung:
Mizan, 2012) 132
Wikipedia, “Neurosains”,
http://id.wikipedia.org/wiki/Neurosains, akses 18, Agustus 2022
Robert Sylwester, Memahami
Perkembangan dan Cara Kerja Otak Anak-Anak, Alih Bahasa, Ririn Sjafriani
(Jakarta: Indeks, 2012).5
Fadilah, M. (2018) ‘Ekplanasi Ilmiah Metode Hipnotis terhadap Otak Manusia’, Jurnal Filsafat Indonesia, 1(1), p. 8. doi: 10.23887/jfi.v1i1.13969.
Suarca, K., Soetjiningsih, S. and Ardjana, I. E. (2016) ‘Kecerdasan Majemuk pada Anak’, Sari Pediatri, 7(2), p. 85. doi: 10.14238/sp7.2.2005.85-92.
Penulis : M. Hifzul Mabrur Hn

Leave a Comment