DIALOG KETUHANAN DI MAIN-MAIN
Malam kamis tepatnya ba’da magrib, kami keluar ngopi di Banguntapan (Yogyakarta). Kafe Main-Main punya atmosfer yang nyaman untuk nikmati kopi, tambah lagi malam itu hujan cukup deras. Beuh, suasananya bukan main…
Seperti biasa,
selalu ada topik menarik dalam tongkrongan anak-anak majelis. Malam itu, entah
mengapa topiknya masalah ketuhanan.
Awal dari obrolan
tersebut adalah pertanyaan yang muncul dari salah satu jama’ah. Dimana Nabi
Muhammad SAW. berjumpa dengan Allah SWT. saat Isra’ Mi’raj ?. Topik tersebut
mengundang terjadinya perbedaan pendapat dalam forum. Ada yang berpendapat
bahwa, Nabi Muhammad tidak berjumpa secara langsung dengan Allah SWT. Ada pula
yang berpendapat bahwa Nabi Muhammad berjumpa langsung dengan Allah SWT. Pendapat
kedua ini yang kemudian memunculkan berbagai pertanyaan. Kalau Nabi Muhammad
berjumpa langsung dengan Allah, maka dimana tempatnya perjumpaan itu ?.
Jama’ah yang meyakini
perjumpaan langsung tersebut menyatakan, bahwa perjumpaan tersebut dimana,, ya wallahu
a’lam.
Diujung perdebatan
tersebut, salah satu jama’ah memberikan pendapatnya. Bahwa perjumpaan Nabi
Muhammad dengan Allah SWT. memang terjadi secara langsung. Akan tetapi ada dua
kemungkinan. Pertama, Nabi Muhammad masuk ke dalam zona Tuhan. Zona
tersebut tidak terikat dengan ruang dan waktu. Sehingga tidak mungkin
mempertanyakan dimana tempat bertemunya. Kedua, Nabi Muhammad berjumpa
dengan Allah secara langsung, dan Nabi Muhammad berada dalam suatu tempat,
tetapi Tuhan tidak berada dalam tempat tersebut. Kenapa ? karena tidak mungkin
Tuhan berada dalam suatu tempat. Jika Tuhan berada dalam suatu tempat, maka
Tempat tersebut lebih besar dari Tuhan. Karena tidak mungkin barang lebih besar
dari ruang, pasti ruang lebih besar dari barang yang menempati ruang tersebut. Kemudian
bagaimana pertemuan langsung tersebut bisa terjadi ? sementara Nabi dalam suatu
tempat dan Tuhan tidak ada dalam tempat tersebut?
Jawabannya Begini,
antara ide dan realita-empiris itu berbeda tempat tetapi dapat berinteraksi. Contoh,
di depan kita terdapat satu batang rokok (ralita-empiris), setelah melihat dan
memperhatikan rokok tersebut, maka dengan sendirinya akan muncul perspesi atau
gambaran bentuk rokok tersebut dalam ide/pemikiran kita. Maka saat itu terjadi
interaksi antara wujud rokok dan ide. Ide ada dalam diri manusia, dan wujud
rokok di luar diri manusia. Untuk memahami bentuk rokok, tidak perlu badan
manusia dibedah dan dibongkar kemudian dimasukkan rokok ke dalamnya. Cukup biarkan
rokok itu diluar manusia, dan ide itu ada dalam diri manusia. maka pemahaman
tentang rokok muncul, kemudian dapat menciptakan rokok baru yang serupa dengan
rokok tersebut.
Intinya apa ?
begini, untuk memperoleh pemahaman tentang rokok saja tidak perlu dilakukan
dengan memasukkan wujud rokok ke dalam diri manusia. cukup ide berinteraksi
dengan wujud rokok, meskipun berbeda tempat (ide dalam diri manusia, dan wujud
rokok di luar diri manusia), tetapi dapat memberikan pemahaman. Maka begitu pun
dengan pertemuan Nabi Muhammad dengan Tuhan. Tidak perlu Tuhan berada dalam
suatu tempat untuk berinteraksi dengan Nabi Muhammad. Meskipun Nabi Muhammad
tetap berada dalam suatu tempat, dan Tuhan diluar tempat tersebut, interaksi
tetap bisa terjadi. antara ide dan wujud-empiris saja bisa berinteraksi
meskipun tidak berada dalam satu tempat, maka bagaimana dengan Tuhan ?. Pasti
bisa lah…
Tetapi seperti
biasa, pendapat dari masing-masing orang tidak mutlak benar. Setiap orang
memiliki hak untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Sehingga malam
itu masing-masing orang tetap memiliki persepsi yang berbeda-beda terkait topik
tersebut. Karena tidak ada yang berani mengklaim bahwa pendapatnya pasti benar.
Jadi, bagi
pembaca nih,,, ketika kawan-kawan membaca, bukan berarti apa yang kita baca
adalah satu-satunya kebenaran, sehingga kita menutup diri dari kebenaran lain. Tetap
bijak, stay calm, nikmati aja perbedaan ini dengan tanpa saling
menghujat, tapi saling berbagi kebaikan…

Leave a Comment