Peringatan HADI Ke-62 IPNW (Persiapan Menjawab Tantangan dari Hedonisme & Sekularisme)

 


IPNW sering kali menjadi salah satu materi diskusi jama’ah Majelis Literasi Ilmiah Yogyakarta. IPNW selalu menarik untuk dibahas sebagai topik yang menemani secangkir kopi, teh, wedang jahe, dan sepiring mendoan. Kami sering kali mencoba untuk menganalisis IPNW secara obyektif. Terutama ketika berbicara mengenai tantangan-tantangan yang dihadapai oleh IPNW di tengah-tengah pesatnya arus globalisasi dan modernisasi.

Jika kita mencoba flashback kepada tujuan dibentuknya Ikatan Pelajar Nahdlatul Wathan yang kemudian disingkat menjadi IPNW, ada hal yang cukup menarik dan menggelitik sebagai autokritik. Mengutip keterangan dari buku “Mengenal Nahdlatul Wathan” yang ditulis oleh Dr. TGH. Abdul Hayyi Nu’man, M.Pd.i., MM. dan Dr. H.M. Mugni Sn., M.Pd., M.Kom., bahwa IPNW dibentuk sebagai wadah kaderisasi untuk membina pelajar Nahdlatul Wathan agar menjadi individu yang berilmu pengetahuan dan berakhlakul karimah. Tentunya hal tersebut penting dilakukan mengingat pelajar NW menjadi generasi penerus perjuangan Nahdlatul Wathan.

Kita fokus kepada dua aspek tersebut, yaitu berilmu pengetahuan dan berakhlak. Pada dasarnya dua hal tersebut tidak bisa dipisahkan. Seperti satu koin yang memiliki dua sisi. Ini menjadi tugas besar IPNW untuk mengkaderisasi pelajar Nahdlatul Wathan agar memiliki dua hal tersebut dalam diri mereka.

Kemudian, berilmu yang dimaksud itu bagaimana ? Secara umum mungkin kita memahami ilmu yang terpenting itu adalah ilmu agama, dan pengamalan dari ilmu agama tersebut melahirkan akhlak yang baik. Lantas apakah dengan konsep tersebut, IPNW hanya akan berprogram dengan orientasi keagamaan, kemudian mengajak seluruh pelajar untuk berakhlak yang baik ?

Kami perlu menekankan bahwa apa yang diprogramkan selama ini, itu tidak ada yang salah. Apalagi program yang dilaksanakan selalu bernuansa religius.

Akan tetapi jika kita memahami secara multidimensional, konsep berilmu itu tidak hanya sebatas memahami ilmu agama, tetapi ilmu umum juga penting untuk dipahami. Nah, jika paradigma tersebut dibangun, maka seharusnya IPNW mampu memilki program yang tidak hanya berorientasi kepada ilmu agama, tetapi juga kepada ilmu umum. IPNW perlu memiliki terobosan baru untuk meningkatkan keilmuan pelajar Nahdlatul Wathan secara interdisipliner bahkan multidisipliner.

Tantangan Dari Hedonisme dan Sekularisme

Dua ideologi tersebut menjadi tantangan besar bagi IPNW. Generasi muda hari ini banyak terbawa arus hedonisme dan sekularisme. Secara sederhana, hedonisme adalah pandangan hidup yang bertujuan untuk fokus mencari kesenangan dan kepuasan. Sisi positifnya, memang hal tersebut akan menjadikan manusia untuk memiliki motivasi kuat dan pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Akan tetapi dampak negatifnya adalah, hal ini akan menjadikan manusia memiliki karakter yang individualis, mementingkan diri sendiri, dan berpengaruh negatif bagi psikis ketika keinginan dan kenikmatan tersebut tidak terpenuhi.

Sedangkan sekularisme adalah, pandangan hidup yang memilah dan mendikotomi antara agama dan kehidupan sosial. Pandangan ini menjadikan agama sebagai urusan individu. Adapun masalah negara, pendidikan dan aspek sosial lainnya itu tidak boleh diintervensi oleh ajaran agama. pandangan demikian itu yang kemudian menjadikan legalisasi hubungan seks bebas, aborsi dan bahkan sampai pernikahan sesama jenis. Kondisi demikian saat ini kita bisa saksikan di Barat.

Dua ideologi ini merebak ke dalam kehidupan generasi muda. Mungkin mereka tidak mau membenarkan kedua ideologi tersebut. Bahkan dengan tegas menyatakan diri sebagai individu yang beragama. Akan tetapi, secara tidak langsung, gaya hidup mereka seakan serupa dengan hedonisme dan sekularisme. Betapa banyak generasi muda (meskipun tidak semua) yang menghabiskan waktu untuk mencari kenikmatan duniawi. Bahkan batasan-batasan agama dilupakan demi mencapai segala keinginan.

Momentum Peringatan HADI IPNW Ke-62

Momentum peringatan HADI IPNW ke-62 harus menjadi langkah awal gerakan perubahan yang dilakukan oleh IPNW. Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, khususnya gaya hidup generasi muda yang terindikasi gaya hidup hedonisme dan sekualirsme, IPNW dituntut untuk mampu mengkaderisasi pelajar NW agar terhindar dari gaya hidup hedonis dan sekularis.

Di meja diskusi, kami sering membicarakan apa yang seharusnya dilakukan oleh IPNW hari ini. Beberapa hal yang sangat urgent untuk dilakukan adalah, peningkaatan softskill, budaya literasi ilmiah, riset, dan kajian-kajian ilmu umum.

Peningkatan softskill akan menjadikan anggota IPNW memiliki keterampilan yang tidak didapatkan dalam dunia pendidikan formal. Pengembangan tersebut sesuai dengan bakat dan minat anggota IPNW. Namun dalam peningkatan softskill ini tidak melulu dalam konteks agama dan olahraga ya, tapi harus mengarah kepada hal-hal diluar itu seperti public speaking, manajemen, seni, dan lain sebagainya. Pengembangan budaya literasi ilmiah, akan memperkaya wawasan dan kemampuan menulis anggota. Minat baca kita di Indonesia masih tergolong rendah, sehingga perlu ada gerakan untuk meningkatkan minat baca, terutama buku-buku atau sumber baca yang sifatnya akademik atau non fiksi. Begitu juga dengan menulis, budaya menulis kita juga masih rendah. Sehingga peningkatan budaya menulisnya harus dilakukan. Hal tersebut selain melatih anggota IPNW untuk mampu menulis gagasan atau pemikirannya dalam bentuk tulisan, tetapi juga dapat mengabadikan pengetahuan yang dimiliki oleh anggota. Tentunya tulisan yang dimaksud disini adalah tulisan yang sifatnya ilmiah.

Untuk riset, IPNW seharusnya melakukannya dalam berbagai aspek. Terutama dalam bidang pendidikan, sosial, dan agama. Jika IPNW sering melakukan riset, bai itu pustaka, laboratorium, maupun lapangan, hal tersebut akan memperkaya informasi bagi IPNW untuk melakukan evaluasi dan mampu inovatif dalam berprogram. Nah, untuk merealisasikannya perlu ada bimbingan, baik itu berupa workshop, pelatihan, dan lain sebagainya.

Kemudian kajian-kajian umum. Dalam konteks ini, kajian yang dilakukan tidak melulu perkara keagamaan. IPNW bisa mengangkat topik-topik keilmuan lain, seperti filsafat, budaya, politik, dan lain sebagainya. Terutama hal-hal yang sedang hangat terjadi di tengah-tengah msyarakat. Hal ini akan membantu anggota IPNW memiliki karakter yang kontekstualis dan peka terhadap lingkungan sekitar.

Mari kita belajar dari organisasi ikatan pelajar lain yang pergerakannya sangat luar biasa seperti Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) dan Ikatan Pelajar Muhammadaiyah (IPM). IPNU-IPPNU UNESA pada tahun 2021 mendapat prestasi sebagai juara 3 dalam festival Essay nasional dengan judul “SEMAR: Smart Waste Sorting Machine Berbasis Convolution Neural Network (CNN) Solusi Penanggulangan SAmpah yang Efektif dan Handal”. Kemudian IPM pada tahun 2015 meraih penghargaan OKP Berprestasi yang keempat kalinya dari Kementrian Pemuda dan Olahraga RI dan banyak juga meraih berbagai prestasi di tingkat nasional.

Prestasi yang dimiliki oleh IPNU-IPPNU dan IPM tidak hanya berorientasi keagamaan, justru jika dilihat prestasi yang mereka miliki ada dalam bidang Sains dan Sosial.

Oleh sebab itu, melalui momentum HADI Ke-62, IPNW diharapkan mampu lebih progresif dan inovatif secara multidimensional. Tidak hanya dalam bidang keagamaan, tetapi dalam berbagai bidang keilmuan.


Penulis : Adet Tamula Anugrah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.