Bagaimana Kita Menilai Sesuatu itu Baik atau Buruk ?
Atas dasar apa kita mengukur baik dan buruk ?. Pertanyaan itu mencuat dalam majelis kami saat ngopi di sala satu kedai kopi di Jogja. Pertanyaan tersebut bagi sebagian orang mungkin tidak perlu untuk dibahas, karena sudah jelas jawabannya. Tapi bagi kami sangat menarik untuk dibahas, apalagi jika kita memandangnya dengan beberapa perspektif. Maka diskusi malam itu menjadi cukup menarik.
Pertanyaan tersebut
muncul dari kegelisahan kami, sebenarnya yang pas itu kita tidak menilai
seseorang dari covernya atau kita harus menilai seseorang dari covernya
?.
Dua hal ini kesannya sangat
paradoks. Salah satu jama’ah menyatakan bahwa kita memang tidak boleh menilai
seseorang berdasarkan penampilan atau perbuatannya yang nampak saja, karena
bisa jadi orang tersebut memiliki kebaikan yang melebihi dari kita. Itu yang
kemudian menjadikan dia mulia dihadapan Tuhan.
Kemudian argument tersebut
dibantah, justru kita harus mengukurnya dengan apa yang nampak. Ketika seseorang
melakukan hal-hal diluar koridor (terutama agama) kita tidak bisa mentolerir. Misalnya,
ada seseorang melakukan perbuatan yang dilarang (dalam agama) secara nyata,
kita tidak bisa mengatakan bahwa pelakunya itu orang baik. Bahkan Islam sendiri
sudah menjelaskan ciri-ciri orang beriman seperti apa, dan ciri-ciri orang
munafik seperti apa. Al-qur’an pun secara eksplisit menyebutkan mana contoh
orang yang baik dan mana contoh orang yang buruk. Maka itu sudah jelas, bahwa
kita harus menilai baik buruk itu dari apa yang nampak.
Dari perbedaan pendapat
tersebut, kami mencoba mencari titik temu, dengan mempertanyakan hal yang
mendasar. Apa itu baik dan buruk ?
Mari kita coba menela’ahnya
secara falsafah. Baik dan buruk itu ada dalam ruang aksilogi, maka dalam
konteks ini berbicara etika. Etika sudah menjadi perdebatan dalam filsafat, dan
sampai hari ini tidak ada kesepakatan terkait etika atau nilai. Dalam menilai
baik dan buruk, tidak ada kesepakatan para filsuf mengenai hal ini. Mereka berpendapat
sesuai dengan aliran yang mereka yakini benar.
Aliran teleologis
menyatakan bahwa nilai baik dan buruk itu tergantung dari tujuan dan
konsekuensinya. Jika suatu perbuatan memiliki tujuan dan dampak yang
menguntungkan, maka hal tersebut dinilai baik, dan jika tidak memiliki tujuan
dan dampak yang menguntungkan maka dinilai tidak baik. Akan tetapi berbeda
dengan pandangan deontologis yang menyatakan bahwa sesuatu itu bernilai baik
dan buruk sesuai dengan ketetapan bahwa hal tersebut bernilai baik ataupun
buruk. Sehingga suatu perbuatan buruk akan tetap bernilai buruk, meskipun
memiliki tujuan atau dampak yang baik.
Misalnya dalam sebuah
perjalanan, kita melihat orang buta dan tuli yang sedang menyebrangi rel kereta
dan berada tepat di tengah rel. Kemudian saat itu, ada kereta yang melaju
dengan kencang. Melihat kondisi demikian kemudian kita berlari mendekati orang
tersebut dan menendangnya. Hal tersebut menjadikan orang tadi menjadi terjatuh
dan terluka, tetapi selamat dari kematian. Lantas perbuatan kita salah atau
benar ? baik atau buruk ?. jika menggunakan perspektf teleologis, perbuatan
kita benar dan baik, karena kita menyelamatkan orang dari kematian. Tetapi dengan
perspektif deontologis, perbuatan kita menendang orang tersebut sampai dia
terjatuh dan terluka, tetap dinilai salah. Karena perbuatan menendang dan
melukai seseorang itu adalah salah.
Oleh sebab itu
berdasarkan filsafat etika, jalan bijak yang kita ambil adalah, tidak
cepat-cepat menilai suatu perbuatan itu baik atau buruk. Kita harus
memperhatikan berbagai aspek moral untuk menilai apakah suatu tindakan. Terutama
dalam menilai manusia. Kebijaksanaan dalam menilai sangat diperlukan dengan
memperhatikannya secara multiperspektif.
Kemudian sebagai orang
yang beragama Islam, seharusnya apa yang kita lakukan ?
Dalam Islam, perbuatan
baik dan buruk, salah dan benar, sudah diatur dalam syari’at. Maka sebagai
individu yang beragama, aturan tersebut harus kita jalani. Kemudian dalam
menilai perbuatan, perkataan atau perilaku orang lain, kita tidak bisa hanya
menggunakan penetapan agama, kita juga harus mempertimbangkan aspek etika, sosio-kultural
dan berbagai aspek lainnya.
Sehingga dalam agenda ngopi
tersebut, kami menyepakati bahwa kita tidak usah menyibukkan diri untuk
menilai orang lain baik atau buruk. Fokus saja untuk menilai diri sendiri. Karena
pengetahuan kita sangat terbatas untuk menilai orang lain. Misalnya kita
melihat seseorang melanggar syari’at, maka cukup kita menahan diri untuk tidak
mengikuti perbuatan orang tersebut. Kita tidak perlu menilai orang tersebut
sebagai orang rendah ataupun fasik. Karena justru dengan kita memberikan
penilaian buruk kepada orang lain, kita sudah menganggap diri lebih baik dari
orang tersebut. Dan sikap yang demikian itu tidak dikehendaki dalam Islam.
Di akhir tulisan ini
saya ingin mengutip kata-kata dari Cak Nun yang maknanya adalah, kita harus
menjadi orang yang benar tanpa menyalahkan orang lain.
Leave a Comment