Nahdlatul Wathan


Nahdlatul Wathan merupakan salah satu organisasi kemasyarakatan yang ada di Indonesia. Secara harfiah, Nahdlatul Wathan terdiri dari dua kata, yaitu nahdhah yang artinya kebangkitan, dan wathan yang artinya tanah air, bangsa. Maka dari dua kata ini, Nahdlatul Wathan berarti kebangkitan tanah air atau bangsa. Sementara menurut istilah, Nahdlatul Wathan berarti organisasi kemasyaraktan yang berlandaskan Ahlussunnahwal Jamaah dari segi aqidah dan Imam Syafi’i dari segi mazhab, serta bergerak dalam bidang pendidikan, sosial, dan dakwah, yang didirikan oleh Tuan Guru Kiai Haji. Muhammad Zainuddin Abdul Majid. (Abdul Hayyi Nu’man, M. Mugni, 2016). Organisasi Nahdlatul Wathan yang berdiri pada tahun 1953 ini merupakan sebagai wadah untuk mengkordinir dua lembaga madrasah yang perkembangannya sangat signifikan di Nusa Tenggara Barat (NTB), yaitu Nadlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) yang khusus untuk kaum laki- laki dan Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) yang khusus untuk kaum perempuan. Penamaan Nahdaltul Wathan ini sendiri terambil dari dua nama awal lembaga madrasah Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) sebagai lembaga madrasah yang pertama dibentuk. (Abdul Hayyi Nu’man, M. Mugni, 2016)

Sebagai organisasi yang bergerak pada bidang Pendidikan, hal ini sudah dilakukan sebelum dibentuknya ormas Nahdlatul Wathan itu sendiri. Yaitu bermula dari pendirian Pesantren Al- Mujahidin tahun 1934 setelah tiga bulan kepulangan TGKH. Zainuddin Abdul Majid dari tanah suci Makkah menuntut ilmu di Madrasah Ash- Shoulatiyah. Kepulangan beliau ke Indonesia bukan karena keinginan sendiri, namun hal ini dilakukan atas dasar perintah guru belaiu yaitu Syeikh Muhammad Hasan Al- Masysyath, guna untuk menyebarkan ilmu yang sudah beliau pelajari di Makkah. Perintah tersebut didasari karena kepulangan beliau akan jauh lebih bermanfaat. Hal ini terbukti dengan kondisi masyarakat Lombok khususnya pada saat itu sangat terbelakang sekali dalam hal pengetahuan dan Pendidikan akibat dari pengaruh animisme dan dinamisme serta jajahan Belanda kala itu. Hal inilah yang mendorong belaiu unutk mendirikan pesantren Al- Mujahidin guna sebagai wadah untuk menghilangkan kebodohan serta keterbelakangan masyarakat.

Kemudian beliau mendirikan Lembaga resmi, yaitu NWDI dan NBDI. Perkembangan dua Madrasah ini sangat pesat sekali. Hal itu tebukti dari jumlah madrasah yang berkembang di Lombok. Pada tahun 1953, cabang dari dua madrasah tersebut mencapai 66 madrasah. Kemudian pada tahun 1973, Nahdlatul Wathan memiliki 350 madrasah, kemudian pada tahun 1994, jumlah madrasah bertambah menjadi 675, dan kemudian pada tahun 1998, jumlah madrasah mencapai 800. Tidak berhenti sampai disana, mulai pada tahun 1998 sampai pada tahun 2019 yang dipimpim oleh putri beliau yaitu Ummuna Hj. Sitti Raehanun Abdul Majid, madrasah yang dimiliki Nahdlatul Wathan berjumlah 1.630 yang tersebar di beberap provinsi, seperti Bali, Sumatera, Aceh, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi. Hingga saat ini Nahdlatul Wathan masih eksis berjuang untuk menyebarkan Pendidikan di Lombok pada khusunya, dan di Nusantara pada umumnya. .(Dr. TGH. Abdul Hayyi Nu’man, 2016)

Selain bergerak pada bidang Pendidikan, Nahdlatul Wathan juga bergerak pada bidang sosial dan dakwah. Hal ini dilakukan untuk menyebarkan ilmu agama serta menghilangkan kebodohan yang menyelimuti masyarakat Lombok khususnya dan masyarakat Nusantara umumnya. Dakwah yang beliau lakukang tidak semulus yang diharapkan. Hal ini dikarenakan pada saat itu di Lombok, penjajahan Belanda masih bercokol di tanah Lombok, sehingga rintangannya ialah para penjajah Belanda. Di samping itu, selain penjajah Belanda, masyarakat setempat yang tidak senang atau iri kepada belaiu juga menjadi tantangan dakwah. Itu terbukti ketika belaiu harus meninggalkan posisi sebagai Imam dan Khatib karena keinginan untuk mendirikan madrasah sebagai suatu pilihan beliau. Namun hal- hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau untuk terus berdakwah guna menyebarkan ilmu agama serta menghapus kebodohan masyarakat pada saat itu. ( Mohammad Noor, Muslihah Habib, Muhammad Harfin Zuhdi, 2014)

Beliau melakukan dakwah dengan mengisi pengajian di masjid- masjid, dan daerah- daerah yang ada di Lombok. Dakwah ke masjid- masjid atau daerah- daerah, bukan hanya dilakukan oleh belaiu sendiri, namun dilakukan juga oleh murid- murid yang tamat dari madrasah NWDI dan NBDI. Murid- murid yang tamat dari dua madrasah tersebut diperintahkan untuk menyebarkan ilmu yang sudah diperlajari dan diperoleh disana. Bahkan sebagai pengkhsusuan untuk pengkaderan para da’i, TGKH. Zainuddin Abdul Majid mendirikan Ma’had yang dinamai dengan Ma’had Darul Qur’an wal Hadist Nahdlatul Wathan (MDQH NW) pada tahun  1965. Ma’had Darul Qur’an wal Hadist merupakan wadah khusus untuk mencetak para pejuang agama atau da’i- da’i guna untuk menyebarkan ilmu agama ke daerah- daerah yang masih sangat awam dalam hal agama. Banyak dari santri yang menamatkan Pendidikan mereka di MDQH NW ini yang melakukan dakwah di daerah asal mereka. Bukan hanya di Lombok saja, bahkan mereka juga melakukan dakwah sampai ke laur daerah. Hingga saat ini, hal tersbeut masih istiqomah dilakukan. Pada bulan Ramadhan, Pengurus Besar Nahdlatul Wathan selalu mengirim thullab Ma’had ke luar daerah Lombok, mulai dari Dompu, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, Riau, dll untuk berdakwah menyebarkan ilmu- ilmu agama yang mereka peroleh di Ma’had Darul Qur’an wal Hadist Nahdlatul Wathan.(Dr. TGH. Abdul Hayyi Nu’man, 2016)

Selain melakukan dakwah secara langsung, TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid juga melakukan dakwah melalui media tulis dan media elektronik. Diantara dakwah yang dilakukan melalui media tulis, belaiu menulis beberapa karya tulis yang berbahasa Arab, Indoneisa, dan Sasak. Diantara tulisan yang berbahsa Arab ialah Risalah At- Tauhid, Sullam Al- Hija Syarh Safinah An- Naja, Nahdhah Az- Zainiyyah, At- Tuhfah Al- Anfananiyyah Syarh Nahdhah Az- Zainiyyah, Al- Fawaqih An- Nahdhiyyah, Mi’raj As- Sibyan Ila Sama’ Ilm Bayan, An- Nafahat Ala Taqriroh As- Saniyah, Nail- Al- Anfal, Hizib Nahdlatul Wathan (Doa Dan Wirid), Hizib Nahdlatul Banat, Shalat An- Nahdhtain, Thariqoh Hizib Nahdlatul Wathan, Ikhtisar Hizib Nahdlatul Wathan, Shalat Nahdlatul Wathan, Shalat Miftah Bab Rahmatullah, Shalat Mab’ust Rahmah Lila’lamin, dll. Adapun tulisan yang berbahasa Indonesia dan Sasak adalah Nazom Batu Ngompal (Ilmu Tajwid), Anak Nuggal Taqrirot Batu Ngompal (Ilmu Tajwid), serta Wasait Renungan Masa I Dan II (Nasihat Dan Petumjuk Perjuangan Nahdlatul Wathan). Adapun dakwah belaiu melalui media elektronik yaitu dengan merekan pengajian belaiu serta lagu- lagu perjuangan yang dibuat oleh belaiu. Seiring dengan perkembangan zaman pada saat ini, Nahdlatul Wathan tetap eksis melakukan dakwah melalui media. Bahkan pengajian- pengajian yang diadakan oleh Yayasan selalu direkam, kemudia disiarkan di media- media online, sehingga orang- orang yang ada di luar daerah bisa menyimak dakwah yang disampikan oleh para guru- guru Nahdlatul Wathan. Dan juga lagu- lagu perjuangan dimodif sedekian rupa dengan kecanggihan media saat ini, sehingga dapat disajikan dengan begitu menarik .( Mohammad Noor, Muslihah Habib, Muhammad Harfin Zuhdi, 2014)

Hingga saat ini semangat dakwah yang dilakukan oleh TGKH. M. Zainuddin Abdul Majid (HAMZANWADI) diwarisi oleh cucu dari putri belaiu Hj. Sitti Raihanun Zainuddin Abdul Majid (PBNW 1998- 2019) yaitu TGKH. Lalu. M. Zainuddin At- Tsani (HAMZANWADI II) yang pada saat ini menjabat sebagai PBNW. Estapet perjuang tersebut beliu nampakkan dengan pengiriman Duta Pejuang NW ke beberapa daerah di laur NTB. Hal ini belaiu lakukan untuk menyebarkan ilmu- ilmu agama dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Nusantara melalui organisasi NW sebagai bukti bahwa Nahdlatul Wathan merupakan organisasi kemasyarakatan yang ikut berjuang dan membantu untuk kemajuan dan pengembangan bangsa Indonesia. Serta menyebarkan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah guna menegakkan kalimat- kalimat Allah sesuai dengan tittah perjuang di Nahdlatul Wathan.(suara rinjani news.co.id)

Penulis : Muhammad Ilham Thayyibi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.