Menyusun Cetak-Biru Arah Perjuangan Ormas Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah
Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) adalah ormas baru yang secara resmi didirikan pada tanggal 23 Maret 2021 silam; umurnya masih sekitar setengah tahun. Kemunculan ormas ini adalah buah dari konflik berkepanjangan antara kubu-kubu yang berselisih dalam ormas Nahdlatul Wathan (NW). Dan oleh karena NWDI adalah ormas “sempalan” dari NW, artinya NWDI masih memiliki hubungan historis-sosiologis-ideologis dengan NW; hal ini dapat kita lihat dari kesamaan tokoh inspirasi kedua ormas ini, yaitu TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, serta kesamaan dasar keyakinannya dalam Islam, yaitu Ahlussunnah wal Jamaah dan bermazhab Syafi’i. Lebih dari itu, kedua ormas ini sebetulnya adalah sama persis dilihat dari segala segi: selain membaca Hizib dan Wasiat Renungan Masa yang sama, mereka juga bahkan merayakan hari ulang tahun (HULTAH) madrasah yang sama, dan menjalankan tradisi-tradisi ke-NW-an yang persis sama; hanya saja terdapat konflik internal yang terus berkecamuk dalam tubuh NW selama bertahun-tahun sehingga ia harus berakhir dengan “pembelahan” ormas.
Entah “pembelahan” ormas ini dapat
dikategorikan sebagai sesuatu yang baik atau buruk, yang terpenting adalah NW
dan NWDI sekarang sudah menjadi dua ormas yang berbeda, yang berarti keduanya
memiliki pimpinan tersendiri, jajaran kepengurusan organisasi sendiri, serta
arah gerakannya sendiri (secara spesifik). Walaupun NWDI adalah ormas baru,
namun seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ia memiliki keterkaitan
ideologis dengan NW; ini berarti bahwa NWDI, secara general, memiliki
cetak-biru arah perjuangan yang sama dengan NW. Namun tentu saja cetak-biru
arah perjuangan NWDI harus dirombak ulang, selain karena ia sekarang telah
menjadi ormas tersendiri, juga karena cetak-biru yang lama tidak terlalu
signifikan dalam membangkitkan NWDI. Ini tentu saja hanyalah pandangan
subjektif penulis, dan perombakan ulang cetak-biru yang dimaksud di sini pun
hanyalah “harapan” bagaimana ormas NWDI nantinya akan berjalan.
Bermula dari latar belakang ormas
NWDI didirikan, yakni karena adanya konflik internal dalam ormas NW, pelajaran
pertama yang dapat diambil adalah bahwa orientasi konflik dalam tiap ormas
sudah seharusnya dilupakan. Jika kubu-kubu dalam NW dulu selalu berkonflik
sehingga hampir melupakan gerakan-gerakan produktif yang seharusnya dilakukan,
maka sekarang hal tersebut sudah tidak boleh lagi terjadi. NWDI sekarang telah
menjadi ormas yang independen dan harus concern dalam pengembangan
Sumber Daya Manusia dan sarana-sarana sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Di
sini penulis akan menyebutkan beberapa hal yang harus menjadi perhatian NWDI
dalam beberapa waktu kedepan demi meluaskan gaung ormas yang baru ini; di
antaranya:
Pertama, peningkatan kajian-kajian keilmuan. Ini adalah hal mendasar yang
perlu dikembangkan secara masif dalam tubuh NWDI. Sebab jika kita melihat ormas-ormas
besar seperti NU dan Muhammadiyah, faktor utama perkembangan mereka adalah karena
aktifnya kajian keilmuan yang diadakan oleh lembaga-lembaga khusus yang mereka
miliki. Sejak tahun 1990-an, NU misalnya telah memiliki dan mengaktifkan LBM
dan Lakpesdam, dan Muhammadiyah telah memiliki dan mengaktifkan Majelis Tarjih,
dimana di lembaga-lembaga ini para anggotanya akan secara intelektual
berkembang dan selalu adaptif terhadap isu-isu terbaru. NWDI juga memerlukan
lembaga semacam ini sebagai wadah pengkajian terhadap wacana-wacana keislaman
dan kebangsaan, juga sebagai pusat fatwa-fatwa NWDI yang nantinya dapat diakses
oleh semua warga NWDI dimanapun berada.
Lembaga-lembaga keilmuan ini juga nantinya
diharapkan akan memiliki jurnal ilmiah khusus hasil penelitian dari kader-kader
NWDI terhadap isu-isu yang sedang dikaji, sebagaimana jurnal Tashwirul Afkar
yang dimiliki Lakpesdam NU dan jurnal Tarjih yang dimiliki Majelis Tarjih
Muhammadiyah. Dengan keberadaan jurnal ini, lembaga-lembaga keilmuan NWDI tidak
terkesan eksklusif dan terbatas pada anggota-anggotanya saja, namun akan meluas
ke semua akademisi, aktivis, dan mahasiswa NWDI dengan tersebarnya jurnal
tersebut melalui platform khusus yang terbuka untuk dibaca bagi semua orang
(Open Journal System). Nama jurnal ini tidak terlalu penting untuk dibicarakan,
yang terpenting adalah adanya lembaga keilmuan terlebih dahulu sebagai wadah jurnal
ini bernaung, serta adanya pengurus yang mungkin akan berasal dari anggota-anggota
ISNWDI atau selainnya.
Kedua, peningkatan fasilitas-fasilitas sosial dan instansi-instansi
pendidikan. Poin ini sengaja ditaruh kedua karena hal utama yang harus
diprioritaskan oleh NWDI adalah kajian-kajian keilmuan dengan pembentukan
lembaga baru. Setelah itu NWDI juga perlu memikirkan proyek-proyek pembangunan
infrastruktur yang akan bermanfaat bagi masyarakat semisal rumah sakit, atau
juga instansi pendidikan seperti universitas dan sekolah tinggi. NWDI memang
telah memiliki beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Hamzanwadi dan
Institut Agama Islam Hamzanwadi di Pancor, Lombok Timur, namun selain itu tak banyak
yang dimiliki oleh NWDI; dan jika dibandingkan dengan perguruan tinggi di bawah
naungan NU atau Muhammadiyah di seluruh Indonesia, NWDI baru hanya membangun
sekitar 5% dari yang seharusnya. Ini belum lagi dengan pembangunan rumah sakit
yang memang seharusnya juga menjadi perhatian NWDI kedepannya (kita bahkan tidak
pernah mendengar satu pun rumah sakit yang bernaung di bawah NWDI).
Walaupun kita beralasan bahwa NWDI
adalah ormas baru, ini tetaplah menjadi evaluasi NWDI sebab ia sebelum menjadi
ormas telah lama berdiri sebagai madrasah. Dan kita juga pasti mengetahui bahwa
pembangunan rumah sakit dan perguruan tinggi akan menghabiskan budget
yang tidak sedikit, namun setidaknya usaha untuk menuju pembangunan tersebut
tidaklah boleh dipudarkan. Sebab cita-cita TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid,
sebagaimana cita-cita para tokoh-bangsa lain, dan seharusnya kita semua, adalah
memperluas persentase keterdidikan anak bangsa melalui pembangunan perguruan
tinggi, dan memperluas persentase kesehatan masyarakat dengan pembangunan rumah
sakit, khususnya di masa pandemi Covid-19 saat ini yang konon katanya akan
bertahan lama.
Ketiga, perlunya ketokohan Ketua Umum sebagai simbol NWDI. Tuan Guru
Bajang Muhammad Zainul Majdi sebagai Ketum PBNWDI sekarang memiliki tugas yang
cukup berat, selain harus mengusahakan kemajuan NWDI dengan mula-mula
menjalankan rencana-rencana yang telah disebut di atas, juga ia harus mewakafkan
dirinya dalam perjuangan NWDI melalui ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya.
Kemunculan tokoh Tuan Guru Bajang ini penting dalam peningkatan kepercayaan
warga NWDI, sehingga ia tidak harus hanya berada di circle yang non-NWDI
dan tidak harus berperan sebagai tokoh non-NWDI. Ia diperlukan untuk hadir
sebagai Ketua Umum agar gaung NWDI menjadi lebih luas, apalagi ketokohan
seorang Tuan Guru Bajang saat ini telah lebih banyak dikenal oleh masyarakat
Indonesia secara umum.
Tuan Guru Bajang saat ini memiliki
banyak jabatan seperti Ketua OIAA Cabang Indonesia dan Wakil Komisaris Utama
Bank Syariah Indonesia (BSI), dan tentu saja ini berarti beliau telah memainkan
peran penting dalam banyak bidang di Indonesia; nantinya Tuan Guru Bajang diharapkan
tidak akan hanya berperan dan masyhur sebagai ketua-ketua organisasi di atas,
namun juga akan masyhur sebagai Ketua Umum PBNWDI. Terkenalnya sosok Ketua Umum
ini nantinya bukan hanya akan berdampak baik pada peningkatan citra NWDI, juga
akan membuat NWDI bisa berdampingan dengan ormas-ormas besar lain di Indonesia
dalam membahas serta menangani problem-problem kebangsaan yang sedang urgen.
Ini sekaligus akan menjadi hal membanggakan bagi warga NWDI sendiri karena
mereka merasa lebih percaya diri dengan adanya tokoh besar Tuan Guru Bajang
yang membawa jabatan NWDI-nya; mereka mendapatkan sejenis privilege dari
ketokohan Tuan Guru Bajang.
Selain hal di atas, PR lain dari
Tuan Guru Bajang adalah menulis artikel-artikel keislaman, kebangsaan, dan
ke-NWDI-an yang memang diperlukan bagi mahasiswa dan akademisi khususnya. Kita
mengetahui bahwa Tuan Guru Bajang adalah cendekiawan yang memiliki wawasan yang
sangat luas dalam bidang keislaman dan kebangsaan, dan hal ini diharapkan akan
ia tuangkan dalam bentuk tulisan-tulisan yang akan dipublikasikan di website
resmi NWDI, nwdi.or.id, atau juga di nwdi.org, atau tgbinstitute.id, ataupun
hamzanwadiinstitute.org. Hal ini bukan hanya akan menjadi “obat rindu” para
mahasiswa dan akademisi yang jarang berjumpa dengan Tuan Guru Bajang, namun
juga akan menjadi rujukan warga NWDI dan juga masyarakat secara umum dalam
mengetahui pemikiran-pemikiran dan ide-ide Tuan Guru Bajang dalam bentuk
tulisan (baik lisan maupun tulisan memiliki pengaruh sendiri dalam diri
pendengar atau pembaca, sehingga kedua alternatif ini perlu digunakan oleh Tuan
Guru Bajang dalam memperbesar persentase keberpengaruhannya).
Ketiga poin yang telah dipaparkan di atas adalah misi-misi yang diharapkan akan menjadi fokus utama dari gerakan NWDI kedepan. Dimulai dari pengembangan kajian keilmuan, peningkatan fasilitas-fasilitas sosial, serta peningkatan peran dan ketokohan Ketua Umum, semua ini diharapkan akan menjadikan NWDI menjadi ormas yang terus berkembang dan maju serta bermanfaat bagi masyarakat sesuai dengan tujuannya didirikan sebagai ormas. Semua ini, walaupun terlihat masih jauh untuk dicapai, namun tidak ada salahnya untuk dijadikan sebagai perhatian utama dan rencana prioritas, sehingga semua pengurus NWDI pusat maupun cabang-cabangnya akan segera mengambil langkah untuk merealisasikan rencana-rencana ini. Pada akhirnya, dengan kehadiran NWDI di tengah masyarakat, ia diharapkan bukan hanya akan menjadi pendukung dalam menyebarluaskan nilai-nilai moderasi agama dan toleransi (seperti yang sering disampaikan oleh Tuan Guru Bajang), namun ia juga diharapkan akan menjadi katalisator dalam meningkatkan keterdidikan anak bangsa dan kesehatan warga, usaha yang akan (semoga) dilakukan oleh NWDI sekuat mana ia bisa diusahakan.
Penulis : Badrul Jihad
Leave a Comment