Gerakan Dakwah Wali Songo
Penyebaran Islam di Nusantara merupakan salah satu prestasi yang sangat luar biasa dalam dunia dakwah. Terlihat dari mayoritas masyarakat memeluk agama Islam dan bahkan saat ini mejadi Negara dengan kuantitas muslim terbesar di dunia. Kondisi demikan tidak bisa lepas dari peran para ulama dan tokoh yang menyebarkan ajaran Islam dengan kasih saying. Wali Songo memiliki peran yang sangat penting dalam misi dakwah pada masa awal di Nusantara.
Nama Wali Songo terdiri dari dua
kata yaitu “Wali” dan “Songo”. Kata wali beasal dari Bahasa Arab yang berarti
dekat, kerabat, atau teman. Dalam Islam, kata wali adalah sebutan bagi
orang-orang yang dianggap dekat dengan Allah dan diyakini menjadi kekasih
Allah. Orang-orang tersebut diyakini memiliki kekuatan adikodrati dan memiliki
ilmu serta wawasan yang tinggi dalam agama.(Hatmansyah 2017)
Kata Songo dalam nama Wali Songo,
memiliki perbedaan pemaknaan. Ada yang meyakini bahwa kata songo berasal dari
Bahasa Arab yaitu “tsana” yang maknanya adalah mulia atau terpuji. Dalam penyebutan
kata tsana terjadi kerncauan ditengah masyarakat sehingga penyebutannya menjadi
songo. Ada yang menyebutkan bahwa kata songo berasal dari kata “sana” yang
merupakan Bahasa Jawa kuno, yang bermakna tempat. Ada juga yang meyakini bahwa
kata songo merupakan Bahasa Jawa yang bermakna Sembilan. Dari perbedaan makna
tersebut maka kata Wali Songo bisa dikatakan sebaga Wali yang mulia atau
terpuji, Wali yang memiliki tempat (untuk berdakwah), dan makna yang lebih
sering digunakan adalah Wali yang berjumlah sembilan.(Hatmansyah 2017)
Pemaknaan Wali Songo dengan makna
wali sembilan memang lebih benar dari makna yang lain. Karena dalam tradisi
masyarakat Jawa, angka sembilan memiliki makna yang khusus. Makna angka
sembilan diyakini sebagai bilangan magis di Jawa. Pandangan ini merupakan
keyakinan orang Jawa yang beragama hindu, dan meyakini alam semesta ini
dikuasai oleh dewa penjaga delapan arah mata angin dan satu penjaga pusat.
Keyakinan tersebut juga diyakini oleh masyarakat Hindu di bali. Sembilan dewasa
penguasa dijumpai pada tertib cosmos pada Candi Lorodjongrang. Delapan penguasa
arah mata angin tersebut adalah Kuwera (Penguasa Utara), Isyana (Penguasa Timur
laut), Indra (Penguasa Timur), Agni 9penguasa Tenggara), Kama (Penguasa
Selatan), Surya (Penguasa Daya), Baruna (Penguasa Barat), dan Bayu (Penguasa
Barat Laut). Kemudian ditambah satu penguasa dan penjaga titik pusat yaitu
Syiwa. Kosmologi yang dianut oleh masyarakat Jawad dan Bali ini dikenal dengan
sebutan Nawa Dewata yang artinya sembilan Dewa. Kemudian ketika penyebaran
Islam dengan dakwah yang dilakukan oleh para Ulama pada masa awal penyebaran
Islam di Nusantara, kiranya terjadi proses perubahan konsep Nawa Dewata menjadi
Wali Songo. Konsep Nawa Dewata yang meyakini bahwa alam semesta dijaga oleh
para dewa yang merupakan anasir ilahi, diganti dengan konsep Wali Songo yang
merupakan orang-orang yang dicintai Tuhan.(Sunyoto 2019)
Penamaan Wali songo menurut Wawan
Hermawan dan Adin Kusdiana, bukan hanya karena jumlah wali yang tergabung dalam
Wali Songo berjumlah Sembilan. Karena faktanya bahwa yang tergabung dalam Wali
Songo lebih dari sembilan orang. Sembilan orang anggota adalah ketetapan dari
organisasi Wali Songo, sehingga ketika satu wafat, maka digantikan oleh tokoh
yang lain.(Lufaefi and Amalia 2020) Keanggotaan
Wali Songo pun berbeda-beda dalam berbagai sumber. Dalam kitab Walisana,
anggota Wali Songo berjumlah delapan orang yaitu, Sunan Ampel, Sunan Gunung
Jati, Sunan Ngudung, Sunan Giri, Sunan Makdum (Bonang), Sunan Alim (majagung),
Sunan Mahmud (Drajat), dan Sunan Kali.(Sunyoto 2019)
Menurut Babad Tanah Jawi anggota
Wali Songo berjumlah sembilan orang yaitu, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan
Giri, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Udung, Sunan
Muria, dan Syaikh Maulana Maghribi. Sedangkan menurut Babad Cirebon anggota
Wali songo yaitu, Sunan Bonang, Sunan Giri Gajah, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga,
Syaikh Majagung, Maulana Maghribi, Syaikh Bentong, Syaikh Lemah Abang, dan
Sunan gunung Jati Purba.(Sunyoto 2019)
Terlepas dari berbedanya versi
jumlah anggota Wali Songo, yang sangat menarik untuk dikaji adalah bagaimana
strategi dakwah mereka dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Strategi
penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh Wali Songo setidaknya terbagi menjadi
lima strategi. Pertama, pembagian wilayah dakwah yang strategis. Wilayah
dakwah sangat menentukan sukses dan tidaknya dakwah yang dilakukan. Para Wali
Songo membagi wilayah dengan mempertimbangkan geostrategis yang sangat mapan.
Pembagian wilayah tersebut diantaranya, Gresik (Jawa Timur) sebagai wilayah
dakwah Maulana Malik Ibrahim, yang kemudian setelah beliau wafat digantikan
oleh Sunan Giri. Surabaya (Jawa Timur) menjadi lokasi dakwah Sunan Ampel. Tuban
(Jawa Timur) menjadi lokasi dakwah Sunan Bonang. Sedayu (Jawa Timur) menjadi
lokasi dakwah Sunan Drajat. Penempatan 5 Wali di Jawa Timur sesuai dengan
kondisi politik saat itu yang berpusat di kerajaan Kediri di Kediri dan
Kerajaan Majapahit di Mojokerto. (Hatmansyah 2017) Bergeser ke Jawa Tengah, wilayah Kudus merupakan lokasi dakwah
Sunan Kudus. Muria merupakan lokasi dakwah Sunan Muria. Demak merupakan wilayah
yang menjadi sentral pergerakan dakwah pada masa Wali Songo sekaligus menjadi
wilayah Kerajaan Demak, yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Jawa. Kemudian
di Jawa Barat merupakan wilayah dakwah Sunan Kalijaga di Cirebon. Wilayah
Gunung Jati (Cirebon) merupakan wilayah Sunan Gunung Jati.(Sunyoto 2019)
Perjalanan dakwah para Wali Songo
menggunakan pendekatan dakwah yang beragam. Metode dakwah yang digunakan
diantaranya, pernikahan, pendidikan, seni budaya, tasawwuf, dan politik.(Lufaefi and Amalia 2020) Melalui pendidikan, Wali Songo mengembangkan pendidikan dengan
model dukuh, asrama, dan padepokan berbentuk pesantren. Dalam bentuk pesantren
dengan memiliki asrama merupakan pengambilalihan bentuk sistem pendidikan yang
sebelumnya digunakan oleh para bhiksu (Budha). Islamisasi sistem lembaga
pendidikan ini diformat agar sesuai dengan ajaran Islam yang kemudian disebut
pondok pesantren.(Sunyoto 2019)
Metode pernikahan digunakan oleh
Wali Songo mengikuti jejak Nabi Muhammad SAW. untuk membangun kekerabatan.
Seperti yang dilakukan oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel). Raden Rahmat membangun
kekerabatan dengan menikahi putri penguasa-penguasa bahawan Majapahit. Metode
Seni Budaya dilakukan oleh Wali Songo dengan melakukan asimilisi seni budaya
purba Nusantara. Seperti yang dilakukan oleh Sunan Bonang dengan mengajarkan
Gamelan dan Sunan Kalijaga dengan menggunakan wayang. Metode tasawuf lebih
digunakan oleh Syaikh Lemah Abang (Syaikh Siti Jenar) dengan menyebarkan Thariqah
Akmaliah. Melalui politik, sentral dakwah Wali Songo berada dibawah
kerajaan Demak (Kerajaan Islam pertama di Jawa).(Sunyoto 2019)
Dakwah Wali Songo terbilang sukses
dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Dakwah tersebut dilanjutkan oleh
generasi-genarasi Wali Songo setelahnya, bahkan sampai muncul berbagai
organisasi-organisasi Islam di Nusantara seperti Muhammadiyyah, Nahdlatul Ulama,
Nahdlatul Wathan dan berbagai organisasi Islam lainnya. Organisasi-organisasi
tersebut terus bermunculan demi menegakkan ajaran Islam. Bahkan tahun 2021
muncul organisasi Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah. Organisasi-organisasi
tersebut banyak mengikuti strategi dakwah Wali Songo. Keberadaan organisasi
Islam di Nusantara menjadi wujud nyata terstrukturnya strategi dakwah demi
menjadikan Nusantara sebagai negeri yang Baldatun Thayyibatun wa Rabbun
Ghafur.
Leave a Comment