Nisfu Sya’ban Dalam Masyarakat Lokal
Author : Hamzani Aulia Rahman (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Nisfu sya’ban dalam islam secara harfiah adalah hari ke-15 sebelum memulai puasa pada bulan Ramadhan atau bulan dimana ia terjepit diantara dua bulan mulia yakni rajab dan ramdahan. Nama sya’ban adalah salah satu nama bulan dari 12 bulan Arab lainnya yaitu satu bulan sebelum bulan ramadhan. Sedangkan yang dimaksud nisfu (pertengahan) sya’ban yaitu tanggal 15 bulan sya’ban, sedangkan malam nisfu sya’ban yaitu mulai waktu maghrib pada tanggal 14 sya’ban. Sya’ban adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung, banyak umat Islam kemudian memanfaatkan bulan sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan serta penghapusan dosa. (Ammi Nur Baits, n.d., 152)
Kemudian dalam hikmahnya pada bulan sya’ban banyak para ulama
menganjurkan banyak melakukan kebaikan seperti berpuasa, sholat dan berdoa. Adapun
hadis-hadis yang termasyhur terkait tema bulan syaban yaitu hadist dari Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dari Muadz bin
Jabal Umar RA.
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ إلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِن
“Diriwayatkan
dari Nabi SAW, beliau bersabda; “Allah menampakkan (rahmat-Nya) kepada semua
makhluqNya pada malam nishfu sya’ban dan mengampuni mereka semua kecuali orang
musyrik atau musyahin”.
[HR. Ath Thabarani, dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya].
Kata “Musyahin” pada teks hadist
adalah orang munafik yang keji dan suka menimbulkan pertikaian dan menyulut api
permusuhan di antara orang-orang yang saling mencinta. Sedangkan pada kitab
an-Nihayah Ibnu al Atsir “Musyahin berarti pembuat permusuhan, sedangkan kata
al Syahna` berarti permusuhan [An Nihayah Fi Ghorib al Hadis: 2 / 449].
Kemudian hadist lain yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Aisyah R.A :
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((أَتَانِي جَبْرَيلُ عَلَيْهِ السَّلامُ فَقَالَ: هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ وَللهِ فِيهَا عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ بِعَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ لاَ يَنْظُرُ اللهُ فِيهَا إلَى مُشْرِكٍ وَلاَ إلَى مُشَاحِنٍ وَلاَ إلَى قَاطِعِ رَحِمٍ وَلا إلَى مُسْبِلٍ وَلا إلَى عَاقٍّ لِوَالِدَيْهِ وَلا إلَى مُدْمِنِ خَمْرٍ …)) وَذَكَرَ الْحَدِيثَ بِتَمَامِهِ
“Sesungguhnya
Rasulullah SAW bersabda; “Jibril As telah mendatangiku, lalu ia berkata: “Ini
adalah malam Nishfu Sya’ban, di dalamnya Allah mempunyai orang-orang yang
dibebaskan dari neraka sebanyak jumlah bulu domba milik Bani Kalb (Sekelompok
kabilah Arab yang paling besar atau yang paling banyak mempunyai domba). Dan
pada malam itu Allah tidak melihat (merahmati) orang musyrik, provokator,
pemutus silaturrahim, orang yang memanjangkan pakaian sampai ke tanah (karena
sombong), orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, dan orang yang selalu
minum khamr”. Al Baihaqi menyebutkan hadis secara sempurna. Imam Ahmad
meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Umar -Radhiyallahu anhuma:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((يَطَّلِعُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلا اثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ)) وَإِسْنَادُهُ لَيِّنٌ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ.
“Sesungguhnya
Rasulullah SAW. bersabda: “Pada malam nishfu sya’ban Allah Azza wa Jalla
menampakkan (rahmatNya) kepada para makhlukNya, kemudian memberi ampunan bagi
para hamba-hambaNya kecuali dua orang, yaitu musyahin dan orang yang bunuh diri.”
Sanadnya hadis ini layyin, seperti pendapat al Hafizh al Mundziri. At
Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan hadis dari Sayyidah Aisyah — Radhiyallahu
anha –, ia berkata:
فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَرَجْتُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: ((أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ))، قُلْتُ: ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ، فَقَالَ : ((إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَغْفِرُ لأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْب. قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيثُ عَائِشَةَ لاَ نَعْرِفُهُ إِلاَّ مِنْ هذَا الْوَجْهِ وَسَمِعْتُ مَحَمَّدًا – يَعْنِي الْبُخَارِيُّ – يُضَعِّفُ هذَا الْحَدِيثَ وَذلِكَ لأَنَّ فِيهِ انْقِطَاعًا فِي مَوْضِعَيْنِ.
“Aku
kehilangan (tidak melihat) Nabi SAW (di malam giliran beliau bersamaku),
kemudian aku keluar (mencari beliau), dan kutemukan beliau sedang berada di
(kuburan) al Baqi seraya menengadahkan kepalanya ke langit, lalu beliau bersabda:
“Apakah engkau menyangka Allah dan RasulNya menzalimimu (dengan menjadikan
malam giliranmu untuk istri yang lain)?”. Aku menjawab: “Saya kira tuan
mendatangi sebagian istri-istri tuan”. Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya
(rahmat) Allah Tabaraka wa Taaala turun ke langit dunia pada malam Nishfu
Sya’ban, kemudian Ia memberi ampunan bagi sejumlah orang yang lebih banyak dari
jumlah bulu domba milik bani Kalb”. At Tirmidzi berkata: “Hadis Aisyah
(ini) tidak aku ketahui melainkan dari jalur sanad ini. Aku mendengar Muhammad
— maksudnya al Bukhari — menilai dhaif hadis ini dan hal itu karena terdapat
inqitha (terputusnya perawi) dalam hadis tersebut dalam dua tempat”. Ath
Thabarani dan al Baihaqi meriwayatkan hadis dari jalur Makhul, dari Abu
Tsa’labah al Khusyani – Radhiyallahu anha:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَطَّلِعُ اللهُ عَلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنينَ وَيُمْهِلُ لِلْكافِرِينَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بحِقْدِهمْ حَتَّى يَدَعُوهُ
“Sesungguhnya
Nabi SAW bersabda: “Pada malam Nishfu Sya’ban Allah menampakkan (rahmat-Nya)
kepada para hamba-Nya, kemudian memberi ampunan bagi orang-orang mukmin, dan
membiarkan orang-orang kafir dan meninggalkan para pendendam dengan (sebab) dendam-dendam
mereka sehingga mereka meninggalkannya”. [HR. At Thabrani (dalam kitab al
Mu’jam al Kabir): 22 / 223 dan Al Baihaqi (dalam kitab Syu’ab Al Iman): 5 /
359]. Al-Bazzar dan al-Baihaqi meriwayatkan hadis dari Abu Bakar ash Shiddiq –
Radhiyallahu anha:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((يَنْزِلُ اللهُ إلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا لَيْلَةَ النِّصْفِ مِن شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ إلاّ لِرَجُلٍ مُشْرِكٍ أَوْ رَجُلٍ فِي قَلْبِهِ شَحْنَاءُ)). وَإِسْنَادُهُ لاَبَأْسَ بِهِ كَمَا قَالَ الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ
“Nabi
SAW, beliau bersabda: “Pada malam Nishfu Sya’ban (Rahmat) Allah turun ke langit
dunia, kemudian Allah memberi ampunan bagi setiap orang yang beriman melainkan
seseorang yang musyrik, atau seseorang yang dalam hatinya terdapat permusuhan”.
Sanadnya hadis ini tidak bermasalah, seperti pendapat al Hafizh al Mundziri. Al
Baihaqi meriwayatkan hadis dengan sanad dha’if (lemah) dari Utsman bin Abi al
Ash – Radhiyallahu anha:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبانَ نادَى مُنادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ هَلْ مِنْ سائِلٍ فأُعْطِيَهُ، فَلا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلاَّ أُعْطِيَ إِلا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكٌ
“Diriwayatkan
dari Nabi SAW: “Bila malam Nishfu Sya’ban tiba, maka terdengar suara lantang
(firman Allah) yang menyerukan: “Adakah orang yang memohon ampunan, maka Aku
akan mengampuninya?. Adakah orang yang meminta maka aku luluskan permintaannya?
Maka tidaklah seseorang meminta sesuatu melainkan Aku luluskan permintaannya,
kecuali perempuan yang berzina dengan kemaluannya atau orang musyrik”.
Demikian redaksi hadis yang ada dalam riwayat al-Baihaqi. Sedangkan redaksi
hadis dalam riwayat lain berbentuk mutlak (setiap malam bulan Sya’ban) tanpa
dibatasi dengan malam separuhnya. Dalam al-Musnad terdapat riwayat hadis dari
al-Hasan al-Bashri, beliau berkata:
مَرَّ عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاصِ عَلَى كِلابِ بْنِ أُمَيَّةَ وَهُوَ جَالِسٌ عَلَى مَجْلِسِ الْعَاشِرِ بِالْبَصْرَةِ فَقَالَ: مَا يُجْلِسُكَ هَاهُنَا؟ قَالَ: اسْتَعْمَلَنِي عَلَى هَذَا الْمَكَانِ – يَعْنِي زِيَادًا – فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ: أَلا أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قَالَ: بَلَى، فَقَالَ عُثْمَانُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ((كَانَ لِدَاوُدَ نَبِيِّ اللهِ عَلَيْهِ السَّلام مِنْ اللَّيْلِ سَاعَةٌ يُوقِظُ فِيهَا أَهْلَهُ يَقُولُ: يَا آلَ دَاوُدَ قُومُوا فَصَلُّوا فَإِنَّ هَذِهِ السَّاعَةَ يَسْتَجِيبُ اللهُ فِيهَا الدُّعَاءَ إِلاَّ لِسَاحِرٍ أَوْ عَشَّارٍ))، فَرَكِبَ كِلاَبُ بْنُ أُمَيَّةَ سَفِينَةً، فَأَتَى زَيِادًا فَاسْتَعْفَاهُ فَأَعْفَاهُ.
“Utsman
bin Abi al Ash pernah melewati Kilab bin Umayyah di saat dia sedang duduk dalam
majlis asyir (Tempat memungut al ‘usyru, yaitu pungutan liar yang
ditarik dari para pedagang atau harta pungutan tertentu yang ditarik pegawai
pemerintah dari orang yang membawa harta masuk ke daerah atau kota tertentu).
di kota Bashrah. Lalu Utsman berkata: “Apakah yang membuatmu duduk di sini?”
Kilab menjawab: “Seseorang memperkerjakanku di tempat ini.” – maksud Kilab
adalah Ziyad -. Utsman berkata kepadanya: “Tidakkah ku beritakan kepadamu suatu
hadis yang kudengar dari Rasulullah SAW?” Kilab menjawab: “Ya”. Lalu Utsman
berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Nabiyullah Dawud as.
mempunyai waktu membangunkan keluarganya, beliau bersabda: “Wahai keluarga
Dawud, bangun dan shalatlah kalian. Sebab sungguh waktu ini adalah waktu yang
di dalamnya Allah mengabulkan doa kecuali bagi tukang sihir dan asyir (pemungut
tarikan liar)”. Kemudian Kilab bin Umayyah naik perahu mendatangi Ziyad dan
memohon ampunan (untuk dibebas tugaskan) kepadanya. Lalu Ziyad pun
mengampuninya.
Ath-Thabrani
meriwayatkannya dalam al Mu’jam al Kabir dan al Mu’jam al Ausath, redaksinya
yaitu:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: تُفْتَحُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ نِصْفَ اللَّيْلِ، فَيُنَادِي مُنَادٍ: هَلْ مِنْ دَاعٍ فَيُسْتَجَابُ لَهُ؟ هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَيُعْطَى؟ هَلْ مِنْ مَكْرُوبٍ فَيُفَرَّجُ عَنْهُ؟ فَلا يَبْقَى مُسْلِمٌ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ إلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ لَهُ إلاّ زَانِيَةً تَسْعَى بِفَرْجِهَا أَوْ عَشَّارًا
“Diriwayatkan
dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Pintu-pintu langit dibuka pada tengah malam, kemudian
ada suara lantang yang menyerukan: “Adakan seseorang yang berdoa, maka doanya
diluluskan? Adakah seseorang yang meminta, maka dia akan diberi? Adakah orang
yang kesusahan, maka ia akan diberi jalan keluar? Maka tidaklah ada seorang
muslim yang berdoa melainkan Allah akan mengabulkan doanya, kecuali perempuan
tukang zina yang menjajakan kemaluannya atau asysyar (pemungut tarikan liar)”.
Riwayat-riwayat tersebut tidak saling menafikan (kontradiktif), sebagaimana
tidak samar lagi bahwa malam tanggal separuh (bulan sya’ban juga) tercakup oleh
riwayat Ahmad dan ath-Thabarani secara umum. Al Baihaqi meriwayatkan hadis dari
Makhul dari Katsir bin Murrah, seorang tabi’in, dari Nabi SAW:
فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللهُ لأَهْلِ الأَرْضِ إلاَّ مُشْرِكًا أَوْ مُشَاحِنًا. قَالَ الْبَيْهَقِيُّ: هذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ. اهـ
“Dalam
malam Nisfhu Sya’ban Allah memberi ampunan kepada penduduk bumi kecuali orang
musyrik dan masyahin (penyulut permusuhan)”. Al-Baihaqi berkata: “Hadis ini
berstatus mursal jayyid. demikian kata beliau”. Al Baihaqi juga
meriwayatkan hadis dari dari al Ala` bin al Harits:
أَنَّ السَّيِّدَةَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ، فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلاتِهِ قَالَ: ((يَا عَائِشَةَ – أَوْ يَا حُمَيْرَاءَ – أَظَنَنْتَ أَنَّ النَّبِيَّ قَدْ خَاسَ بِكَ؟)). قُلْتُ: لاَ، وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَ لَكِنَّنِي ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِكَ، فَقَالَ: ((أَتَدْرِينَ أَيُّ لَيْلَةٍ هذِهَ ؟)). قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: ((هذِهَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ)). قَالَ الْبَيْهَقِيُّ: هذَا مُرْسَلٌ جَيِّدٌ، وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ الْعَلاءُ أَخَذَهُ مِنْ مَحْكُولٍ.
“Sesungguhnya Sayyidah Aisyah – Radhiyallahu anha – berkata:
“Rasulullah SAW bangun malam, lalu shalat dan memanjangkan sujud, sehinggaa ku
mrnduga sungguh ruh beliau telah dicabut. Maka ketika aku melihat hal itu, aku
beranjak berdiri sehingga aku gerak-gerakkan ibu jari beliau, kemudian ibu jari
beliau bergerak-gerak. Lalu aku kembali. Setelah beliau mengangkat kepalanya
dan selesai dari shalatnya, beliau bersabda: “Wahai Aisyah -Wahai Humaira`- Apakah
kamu menduga bahwa Nabi SAW telah menghianatimu (lalu tidak memenuhi hakmu)?”.
Aku menjawab: “Tidak, wahai Rasulullah, akan tetapi aku menduga sungguh engkau
telah dicabut nyawanya karena lamanya sujudmu”. Beliau bertanya: “Apakah kamu
tahu malam apakah ini?”. Aku menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”
Beliau bersabda: “Ini adalah malam nishfu sya’ban. Sungguh pada malam nishfu
sya’ban Allah Swt menampakkan (rahmat-Nya) kepada para hamba-Nya, kemudian Ia
mengampuni orang-orang yang memohon ampunan, mengasihi orang-orang yang memohon
belas kasih, dan menunda para pendendam seperti halnya mereka”. Al-Baihaqi
berkata: “Ini hadis mursal jayyid dan mungkin al-Ala` mengambilnya dari Makhul”
Dari berbagai Riwayat hadist diatas terdapat berbagai macam
kontradiktif dalam penilaian hadist sehingga dalam keutamaan malam nisfu syaban
banyak yang beranggapan bahwa dasar hadist tersebut dhaif atau cacat dari
rantai sanadnya. Meskipun
demikian, al-Hafizh Ibnu Hibban telah menilai shahih sebagiannya. Menurut Said
Yai Ardiansyah, amalan yang biasa dilakukan dalam bulan syaban yang merunut
dalam hadist- hadist diatas adalah Memperbanyak puasa, Membaca Al-Qur’an,
Mengerjakan amalan-amalan shalih, Menjauhi perbuatan syirik dan permusuhan di
antara kaum muslimin dan Amalan atau perbuatan yang mempunyai dampak positif
guna mempersiapkan diri menyongsong bulan suci Ramadhan. Ibadah dan berdo’a
pada malam nisfu sya’ban walau pun bermacam-macam tata caranya tapi makna dan
intinya sama yakni memohon kepada Allah.
Tradisi budaya Indonesia sejatinya
memiliki unsur keagamaan dalam segala macam ritualnya. Kenapa demikian! Hal
tersebut berkenaan dengan kata ritual yang berarti upacara keagamaan. Pada
umumnya hari nisfu syaban dipergunakan oleh umat islam tradisonal sebagai ajang
melaksanakan amalan saleh dengan dalih bahwa catatan amal yang lama akan
berganti dengan yang baru dan pada umumnya masyarakat membaca yasin tiga kali
dengan harapan iman bertambah, Panjang umur, serta kemurahan rizki (H. Muhammad, 2006: 67). Berbeda lagi dalam masyarakat pedesaan yang memiliki kultur
percampuran budaya hindu dan budha, Menurut Nur Syam dalam buku “islam
pesisir” kata ritual memiliki banyak pengertian dalam disiplin ilmu akan tetapi
secara garis besarnya ritual banyak berhubungan dengan aktivitas Magis atau
Agama atau bersifat Trancendental. Budaya lokal dalam Indonesia yang tertuang
dalam tradisi Islam lokal. Islam lokal bisa didefinisikan sebagai seperangkat
teks tertulis, tradisi oral atau ritual yang kehadirannya tidak dikenal di
daerah asal turunnya Islam (Saudi Arabia). Menurut Woodward,
naskah-naskah atau tradisi mistik pada budaya merupakan contoh paling jelas
adanya Islam jenis ini serta merupakan implikasi logis sebagai hasil interaksi
antara kebudayaan lokal dan received Islam. Signifikansi di Indonesia dan
kenyataan bahwa sebagian elemen-elemen penting budaya berasal dari
sumber-sumber historis pra-Islam merupakan bukti kuat adanya interaksi kebudayaan
lokal dengan Islam universalis dan esensialis.
Dalam perkembangan dakwah Islam di
Indonesia para penyiar Islam mendakwahkan ajaran Islam melalui bahasa budaya,
sebagaimana dilakukan oleh para wali di tanah nusantara yang mashur diantaranya
walisongo karena kehebatannya para wali dalam mengemas ajaran Islam dengan
bahasa budaya setempat, sehingga masyarakat tidak sadar bahwa nilai-nilai Islam
masuk dan menjadi tradisi.
Dalam kehidupan masyarakat nusantara
(Indonesia). misalnya saja pada tradisi nisfu syaban dengan berbagai versi
banyak sekali macamnya diantara hal tersebut adalah budaya ruwah atau rowahan.
Budaya ruwah ini tentu banyak sekali versi kegiatannya semisal ber doa Bersama
(sya’banan, slametan, ruwahan, basahae sifu) (Ardianto, Gonibala, and Hadirman 2020, 13; Haidar 2021; Saidah,
Aka, and Damariswara, n.d., 43; Safa’atillah, 2021, 22), ziarah kubur serta berbagi makanan dengan tetangga atau keluarga
(magengan). Kemudian dalam praktis dan tata cara tentu mempunyai banyak
perbedaan serta nilai yang dibangun seperti pemilihan makanan semisal ketan
dalam upacara jawa bermakna bahwa ketan mempunyai unsur lengket sehingga
terbangun symbol silaturahmi yang sangat erat. Tradisi budaya tersebut tentu
merupakan suatu refleksitas islam dalam bingkai budaya yang berkembang, untuk
itu perselisihan ulama melihat berbagai kegiatan upacara tersebut bertumpu pada
ada tidaknya nash secara jelas menjelaskan fenomena tersebut. Bahkan kejadian
itu termasuk dalam komplek ijtihad ulama dengan berbagai pendapat yang
kekinian. Kehujjahan tradisi pada hakikatnya sudah tergambar dalam kata ma’ruf
dengan makna kebaikan atau segala perbuatan yang tersanding dan tidak
bertentangan dengan islam secara nash qat’i dan zanni.
Merujuk dalam berbagai uraian penjelasan di atas sekiranya para paranoid agama secara ekstrem melihat bagaimana islam pada terbungkus pada nilai symbol budaya mendeskreditkan hak tersebut kearah yang membid’ah kan suatu kaum, masyarakat serta berbagai bentuk orgnaisasi yang sekiranya menurut mereka merusak islam dengan pendapat menambah-nambah perkara yang belum ada pada kehidupan lini islam dalam budaya arab. Maka, dalam prinsip dasar jelas sekali sepanjang upacara dan tradisi tidak memiliki pertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist, maka tradisi tersebut sejatinya selaras dengan nilai-nilai islam dengan tujuan meminta kebaikan dan pengharapan kepada sang pencipta dan memupuk rasa kekompakan, kesepakatan, ketataan, kohesivitas dalam berkehidupan serta hal ini juga merupakan bentuk tranformasi islam melalui bingkai sejarah dan kontruksi sosial sehingga memunculkan frame islam nusantara.
Leave a Comment