Islam Di Bumi Nusantara

 

Relasi Islam dan Nusantara selalu menarik untuk diberbincangkan. Islam dan Nusantara merupakan dua entitas yang berbeda, tapi tidak bisa dipisahkan. Analoginya seperti smart phone dan media sosial versi mobile. Tanpa smart phone, media sosial versi mobile nggak akan bisa diakes. Begitu juga sebaliknya, bagi para user media sosial, smart phone akan terasa hambar kalo nggak bisa digunakan untuk berselancar di media sosial. Okay, mungkin bagi mereka yang hidup pada era handphone hanya bisa digunakan untuk nelfon dan SMS, media sosial tidak dianggap peting, Tapi saat ini, dimana dunia sedang berada pada era revolusi 4.0, yang sebagian besar manusia di dunia memiliki smart phone, media sosial dianggap fardhu ‘ain. Mereka yang tidak memiliki akun media sosial, apalagi menggunakan hadphone jadul yang tidak bisa mengakses media sosial, mereka akan dicap sebagai orang yang GapTek dan ketinggalam zaman. 

Dalam konteks Islam dan Nusantara, Islam adalah ajaran yang bersumber dari Allah SWT. dan Nusantara adalah salah satu tempat ajaran tersebut disebarkan. Islam adalah software dan Nusantara adalah hardware, sedangkan penduduk Nusantara adalah user. Islam sangat bermanfaat bagi penduduk Nusantara dalam dimensi rohani, sedangkan Nusantara sendiri sangat bermanfaat bagi penduduknya dalam dimensi jasmani. Jadi keduanya adalah kebutuhan bagi penduduk Nusantara tidak bisa dipisahkan . 

Kalau kita membuka catatan sejarah, maka kita akan menemukan fakta bagaimana romantisnya interaksi Islam dan Nusantara. Islam dengan kasih sayangnya, yang direpresentasikan melalui strategi dakwah para tokoh penyebar Islam, menjadikan penduduk Nusantara jatuh cinta dan mau memeluk agama Islam. Islam menekankan pemeluknya untuk selalu menjaga diri agar selalu dekat dengan Tuhan, menjaga hubungan baik dengan sesama manusia dan bahkan harus menjaga alam semesta beserta isinya. Artinya Islam tidak hanya mengkonsepsikan agama sebagai sebuah keyakninan kepada Tuhan, tapi Islam juga mengatur bagaimana seharusnya manusia berinteraksi dalam kehidupan sosial dan berinteraksi dengan alam. 

Pertanyaan kemudian muncul, kok bisa Islam masuk ke Nusantara dangan damai ?. Menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita membuka kembali catatan fakta sejarah mengenai proses masuknya Islam ke Nusantara, dan bagaimana metode penyebaran ajaran Islam yang dilakukan. Sebelum membahas penyebaran Islam, ada baiknya kita mengulik terlebih dahulu bagaimana agama dan keyakinan yang diyakini sebagai agama kuno penghuni Nusantara. Baru kemudian kita masuk kepada peradaban Islam di Nusantara.

Sejak era Pleistosen Akhir, diketahui bahwa penghuni Nusantara kuno sudah mengenal peradaban yang ada kaitannya dengan agama. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya Menhir, Dolmen, Yupa, Sarcopagus, dan Punden Berundak. Pada era Paleolithikum dan berlanjut pada era Messolithikum, Neolitihikum, dan Megalithikum, penghuni Nusantara kuno sudah mengenal agama dengan berbagai ritual pemujaan, yang berkelanjutan sampai pada era kebudayaan perunggu. Dari berbagai hasil temuan, diketahui adanya berbagai alat yang digunakan untuk prosesi pemujaan, dan termasuk alat-alat yang digunakan dalam prosesi penguburan mayat (Sunyoto 2019).

Penghuni Nusantara kuno memiliki keyakinan kepada ruh yang berada dalam suatu benda dan tempat. Untuk menggambarkan kepercayaan-kepercayaan tersebut maka digunakanlah istilah animisme. Di Pulau Jawa kepercayaan tersebut dikenal dengan sebutan Kapitayan. Kapitayan digambarkan sebagai suatu ajaran menyembah Sanghyang taya sebagai sesembahan utama. Sanghyang Taya diyakini tidak bisa didekati dengan pancaindra, tidak bisa dipikir dan dibayangkan. Keberadaan Sanghyang Taya diyakini ada tetapi tidak ada, tidak ada tetapi ada. Oleh karena itu  untuk bisa disembah dan dipuja oleh manusia, dibutuhkan sarana-sarana yang bisa didekati oleh pancaindra dan pikiran manusia. Sarana-sarana tersebut baik itu berupa benda atau lokasi sakral, diyakini sebagai tempat tersembunyinya kekuatan gaib Sanghyang taya (Sunyoto 2019).

Keyakinan penghuni kuno Nusantara seperti Kejawen juga ditemukan di beberapa daerah di Nusantara. Di Pulau Lombok, agama Boda disebut sebagai agama asli penghuninya. Penganut Boda disebut dengan panggilan kelompok Sasak Boda. Keyakinan dalam agama Boda berbeda dengan Budha. Karena kelompok Sasak Boda tidak megimani Sidharta Gautama. Agama Boda leih mengara kepada animism dan pantheisme. Mereka melakuan pemujaan dan penyembahan kepada roh leluhur dan dewa local yang ada di ulau Lombok (Noor, Habib, and Zuhdi 2014). Di daerah lain seperi Papua dan pulau-pulau pasifik, penduduknya juga memiliki kepercayaan terhadap ruh-ruh gaib yang menghuni benda-benda (Sunyoto 2019).

Sejarah juga mencatat bahwa Nusantara pernah dikuasai oleh kerajaan-kerajaan yang menganut ajaran Hindu dan Budha. Akan tetapi dalam muhibah ketujuh Ceng Ho, disaksikan bahwa sekalipun kalangan keraton (era Majapahit) menganut ajaran Hindu, para petani desa lebih mengenal ajaran Kapitayan. Kondisi tersebut tercermin pada tradisi pemujaan terhada batu, tugu, tunggu, tunda, tungkub (punden) pelindung desanya. Bahkan pada masa akhir Majapahit, terjadi kemerosotan sosial dan religius masyarakat (Sunyoto 2019).

Pada abad ke-7 Masehi, Islam mulai masuk ke Nusantara melalui pedagang-pedagang Arab dan Persia. Namun penyebaran Islam belum begitu masif hingga pada pertengahan abad ke-15, yaitu era dakwah walisongo. Para Wali Songo dikisahkan memiliki berbagai karomah, sehinga Islam dengan cepat diserap oleh penghuni Nusantara yang meyakini adanya kekuatan adikodrati seperti ajaran mereka sebelumnya. Wali Songo melakukan asimilasi dan sinkretisasi antara ajaran Islam dan ajaran agama Nusantara saat itu. Wali Songo tidak serta menolak dan menjauhi ajaran agama penghuni Nusantara sebelumnya. Para wali sangat terbuka dan adaptif dalam menyikapi ajaran selain Islam. Dakwah dilakukan dengan membangun kekerabatan keluarga dengan tokoh-tokoh yang berpengaruh, lewat asimilasi pendidikan, dan lewat sosial budaya. 

Gerakan Dakwah yang adaptif dengan adat dan budaya Nusantara, sangat efektif untuk mendengungkan Islam sebagai ramatan lil ‘alamin. Gerakan dakwah seperti itu masih digunakan oleh para tokoh agama di Nusantara. Seperti dakwah yang dilakukan oleh Ormas Nahdlatul Wathan dengan konsep Turahhibu bi al-Hadits wa Tahtarimu al-Qadima wa tarbitu bainahuma. Sementara Ormas Nahdlatul Ulama mengunakan konsep al-Muhafazatu ala al-Qadim al-Shaleh wa al-Akhzu bi al-jadid al-Ashlah. Konsep tersebut merepresantasikan wajah Islam yang tidak menolak tradisi terdahulu bahkan menjaganya, dan menghormati serta mengadopsi ajaran baru yang baik, kemudian mengakomodir kedua ajaran tersebut (Fahrurrozi 2019).

Tradisi nusantara yang telah diasimilasi dengan ajaran Islam, menjadikan tradisi tersebut tetap terjaga sampai saat ini. Di Sumbawa misalnya, falsafah adat istiadat menggunakan kalimat “Adat Barenti Ko Syara’, Syara’ Barenti Ko Kitabullah”, dengan makna bahwa adat berpegang kepada syara’ dan syara’ berpegang kepada kitabullah (Zulkarnain 2015). Falsafah tersebut menjadi pedoman bagi Sumbawa dalam berbagai tradisi masyarakatnya. Di Gorontalo memiliki falsafah yang memiliki makna sama yaitu “Adat barsandi syara, Syara bersandikitabullah”. Fakta ini menunjukkan bahwa tradisi Nusantara yang dulunya pernah dikuasai kerajaan Islam di Nusantara, sampai saat ini memiliki falsafah tradisi yang sesuai dan sejalan dengat syari’at Islam (Marhandara 2020).

Tradisi yang masih terus dijalankan oleh umat Islam di nusantara sampai saat ini, seperti perayaan maulid, ziarah kubur ulama’, tahlilan, dan berbagai tradisi lain, pasti memiliki dasar syariat. Kalau tradisi tersebut dinilai sangat bertentangan dengan ajaran islam, maka tradisi tersebut pasti dihilangkan. Sebagai penduduk di Nusantara, tradisi tersebut harus tetap dilestarikan sebagai ajaran para leluhur Nusantara. Selain itu, tradisi tersebut juga mengandung nilai-nilai keislaman dan bahkan bernilai ibadah.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.